Lean Startup Machine Jakarta 2014: sebuah catatan kecil (2)

Sambungan dari posting sebelumnya…

Tim William: conception vs. validation

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, tim kami ingin merancang sebuah solusi bagi para wanita modis yang saat nonton TV penasaran dengan baju, tas, atau sepatu artis atau idolanya dan ingin membeli secepatnya.

Oh iya, Tim kami dipimpin oleh William (yang punya ide), Gunardi, Yhanuar, Amir, Oni, dan saya. Pas acara validasi di lapangan kebetulan Oni ga ikut karena anaknya ultah. Kegiatan workshop ini membuat kami yang sama sekali ga kenal ini bisa cepat berkolaborasi.

Dalam Lean Startup, kita diwajibkan untuk fokus kepada customer dan mencoba untuk memahami apa yang menjadi “masalah” buat customer kita. Menurut kami, masalah yang ingin kami cari solusinya adalah: keinginan wanita untuk bisa mendapat informasi tentang fashion yang dikenakan bintang TV.

Hal ini penting karena banyak pendiri startup yang memulai usaha dengan sebuah produk atau jasa, dan mereka jatuh cinta kepada ide itu. Karena sang pendiri selalu menganggap produk/jasa mereka itu adalah ide brilian yang ditunggu-tunggu customer. DAN itu dilanjutkan dengan investasi-produksi tanpa validasi yang memadai kepada target customer-nya. Dalam aplikasi Lean thinking dalam process improvement, hal yang sama juga menjadi penekanan yaitu menghindari melakukan perbaikan, sebelum customer kita validasi tentang permasalahannya. Agar tidak jump to conclusion.

Dalam Go out of the Building (atau dalam Lean term juga dikenal sebagai go to gemba), tujuan kita adalah memvalidasi 3 hal: apakah customer kita memang eksis, apakah memang para wanita mempunyai problem yang kita pikirkan, dan apakah asumsi kita memang benar.

Invalidate

Saya jadi ingat pengalaman saya saat dulu di tahun 2007-an menjadi product manager di sebuah perusahaan multi nasional, kadang-kadang kita menghabiskan berbulan-bulan untuk merancang konsep yang menurut kami akan laku di pasaran. Mungkin setelah 6-7 bulan kemudian baru kami akan melakukan validasi melalui quantitative research dan focus group discussion. Selain lama, riset-nya juga mahal.

Dalam workshop ini saya sadar bahwa validasi konsep/ide brilian kita bisa dilakukan dengan cara sederhana: ngobrol langsung dengan target customer. Tapi ternyata ga gampang!

Talking to the real customers is is not easy, risky, but…fun.

Setelah mencoba memastikan memahami konsep yang akan kami buat, kami segera memutuskan menuju Sumarecon Mall. Sambil menunggu mobil datang, kami mendiskusikan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan. Dalam hati saya sebenarnya ada kekhawatiran akan mengalami kesulitan karena takut ditolak, atau ditinggalkan karena dikira om-om yang mencoba taktik baru untuk ngajak kenalan..:*). Selain itu rasanya tidak terlalu nyaman karena saya harus berkenalan dengan ABG, mahasiswi atau pekerja di mall…apa iya orang mau diajak ngobrol oleh orang yang tidak dikenal.

Untungnya kita dalam team, jadi saya yakin masa sih diantara kita ngga ada yang jago dalam hal ginian…hahaha…Sesampainya di mall yang dituju, karena waktu ngga banyak, kami bagi team menjadi dua. Yanuar dan saya, serta Amir, Gunardi dan William. Kami berinteraksi secara terus-menerus dalam grup Whatsapp.

Yanuar dan saya pertama kali mencoba berkenalan dan meminta waktu berbincang-bincang dengan dua orang gadis yang sedang duduk di sekitar tempat makan. Katanya sih lagi mau nonton film. Ternyata mereka mau ngasih waktu 10 menitan buat ngobrol. Lumayanlah buat penglaris…cuma ternyata mereka masih anak-anak SMP. Bukan dalam bayangan target customer kami, tapi kita putuskan untuk tetap ngajak ngobrol. Dari obrolan dengan mereka saya jadi tahu bahwa mereka ga jarang banget nonton tipi, fashion lebih banyak dipengaruhi oleh Youtube karena ada channel milik seorang gadis bernama Bethany Mota (baru denger!), belanja online dengan Groupon (ooh ada toh di Indonesia?), sering belanja melalui Instagram (baru tahu!) serta baru sadar ternyata brand untuk abegeh itu adalah H&M dan Forever21.

Secara saya berjenis kelamin laki-laki dan juga usia masuk kategori #anaklama, memang tersadar betul betapa jauhnya apa yang ada di pikiran saya dengan apa yang dialami segment yang menjadi target tim kami. Walaupun yang kami temui masih SMP, namun melihat behavior-nya yang sudah terbiasa dengan membeli baju online, tentunya pendapat mereka adalah masukan berharga.

Interview dengan responden berikutnya menjadi lebih lancar dan alamiah (thanks, Mas Fajar!), dan kami menjadi lebih pede lagi dalam menggali. Malah saking lancarnya, kami mulai terbiasa menghampiri dan ngajak ngobrol banyak responden di berbagai tempat. Di resto tempat kami makan, di jalanan, sampai di tempat menunggu jemputan…

William & Yhanuar: sambil nunggu jemputan masih sempet wawancara

Banyak hal yang kami dapat misalnya pengaruh channel non selebriti di Youtube, online shop di Instagram, dan banyak lagi… namun berita buruknya, banyak asumsi Tim William yang terbukti….TIDAK VALID!

ASUMSI 1: banyak cewek sering nonton tv dan dapat inspirasi dari tv. VALIDASI:  kebanyakan jarang nonton tv; inspirasi fashion dari mana aja: youtube, instagram,majalah, teman..tv juga tapi ngga terlalu signifikan.

ASUMSI 2: cewek banyak yang terpengaruh oleh idolanya dalam menentukan fashion. VALIDASI: ngga juga. Kadang-kadang ikut idola, lebih sering ikut teman, atau lihat yang lucu di majalah atau instagram. Malah ada yang ngaku maniak nonton drama Korea, tapi fashion lebih dipengaruhi fashion di UK.

ASUMSI 3: cewek ingin lebih efisien dalam menggunakan waktu dalam belanja. Dan ini salah satu asumsi kami yang paling risky. Kami berasumsi cewek saat melihat baju yang keren di tv, ingin segera tahu merek dan harganya, dan ingin beli saat itu juga tanpa perlu browsing di internet atau harus datang ke toko-toko. VALIDASI: rata-rata mengatakan menikmati windows shopping baik di internet, sosial media, maupun di mall-mall. Saat mendapatkan produk yang ok dengan harga bagus pun mereka masih ingin membandingan dengan toko atau web lain.

Di satu sisi kami semua lemas karena bingung harus memulai konsep kami dari awal, namun kami juga bersemangat karena penasaran dengan apa yang kami dapatkan. Secara pribadi, ini menjadi pengalaman baru saya, karena biasanya saya mendapatkan moment of truth seperti ini saat mengajak klien korporasi melakukan walkthrough proses untuk melakukan improvement dengan metode Lean enterprise. Baru kali ini saya mengerti maksud Eric Ries tentang konsep validated learning.

Kembali dari Sumarecon Mall, kami masih bingung dengan apa yang harus kami lakukan untuk konsep produk kami. Tapi acara workshop dilanjutkan  dengan sharing tentang Solution Validation oleh Indra Purnama. Saya sendiri telat gabung lagi, jadi ngga nangkep sama sekali apa yang disampaikan.

Skystar Ventures

Salah satu yang menarik dalam sesi Sabtu siang ini adalah introduction dari Skystar Ventures oleh Geraldine Oetama, sebuah entitas yang selain bisa menjadi partner buat startup juga menyediakan fasilitas bagi startup dalam bentuk coworking spaces dan virtual offices. Lokasinya masih di lingkungan UMN Serpong, sebuah bangunan futuristik berbentuk sarang lebah yang didalamnya banyak terdapat ruangan-ruangan bagi para startup untuk membentuk sebuah ekosistem (catatan: karena arsitektur-nya berupa gedung yang seakan-akan ditutupi oleh sarang metal berlubang-lubang, kayaknya di dalam kok gerah banget ya? William billang nyaris pingsan pas jalan-jalan didalam. Tantangan buat pengelola gedung dalam memikirkan sirkulasi dan temperatur udara).

Rudi dan saya sempet bisik-bisik untuk mempertimbangkan tempat ini untuk jadi virtual office dan tempat nongkrong mengingat lokasinya yang tidak jauh dari rumah. Dari pengalaman melihat Comma yang bisa menjadi tempat networking yang bagus banget, rasanya seneng juga melihat ada tempat yang serius buat jadi inkubator di lingkungan Serpong. Tapi mudah-mudahan walaupun letaknya deket kampus, startup dan bisnis yang masuk inkubasi ngga terlalu direcoki para akademisi. Pengalaman saya menyatakan, semakin banyak campur tangan akademisi, semakin susah bisnisnya dimulai….hahaha…wiring otak akademisi udah kebanyakan teori jadinya susah action! :)

Saat di Skystar, salah seorang mentor, Dondi Hananto, melakukan tanya jawab untuk mengetahui hasil validasi dari setiap tim. Ia juga mulai memperkenalkan konsep MVP (minimum viable product) yang kira-kira artinya produk dengan effort minimum namun cukup nyata diperlihatkan kepada customer untuk mendapatkan umpan balik dan validasi. Saya juga sempet ngobrol dengan Dondi mengenai tantangan membuat MVP di luar technology industry, mengingat kebanyakan startup sekarang dikonotasikan dengan perusahaan-perusahaan berbasis teknologi atau aplikasi. Saya cukup tertarik dengan MVP di luar aplikasi  IT, karena perusahaan saya Edraflo bukanlah perusahaan yang bergerak di bidang IT.

Lagi…Go Out of the Building!

Sabtu jam 3-an sore.

Di tengah kegalauan kami terkait asumsi Tim William yang dengan sukses TIDAK VALID, kami lagi-lagi “ditendang” panitia agar melakukan validasi lagi kepada customer. Walaupun agak setengah hati karena sekarang bingung, namun kami memutuskan untuk berpencar mencari “mangsa” para wanita modis lagi untuk diajak ngobrol. Konon di sekitaran Serpong, Dunkin Donuts 24 jam adalah tempat nongkrong yang banyak dikunjungi mahasiswi, jadi kamipun kesana. Ternyata yang nongkrong disana lebanyakan cowok, dan agak sepi..jadi dengan terpaksa kami balik ke tempat awal: Sumarecon Mall. Amir agak khawatir karena saat kunjungan tadi sering ditegur dan diikuti satpam karena ia membawa kamera SLR :) Tapi akhirnya kami nekat aja. Saat validasi ini Yhanuar dan Amir melakukan beberapa interview dengan wanita yang menggunakan hijab (bagus juga idenya, untuk melihat range yang lebih luas), dan kami bertiga sempat ngobrol dengan seorang SPG yang lagi nawarin rokok.

Selepas maghrib kami semua kembali ke UMN tempat workshop dilaksanakan, namun kali ini tempat sudah dipindahkan ke lantai dasar. Dondi kembali menjadi pembicara dengan topik Concierge MVP. Sesuai namanya, konsep ini mengajarkan para pengusaha muda untuk mencoba memasarkan ide-nya dengan cara yang manual dengan investasi seminim mungkin.

Mengutip buku Lean Startup, dikisahkan bagaimana Groupon pada awalnya dijalankan dengan email dan kupon yang dibuat dengan PDF secara manual. Intinya, sebelum investasi yang sangat mahal, sebaiknya kita menjalankan konsep dan ide kita semanual mungkin sampai terbukti orang mau membayar untuk produk atau jasa kita.

Kisah-kisah ini membuat saya kembali menyesal. Tahun 2008, saya pernah terlibat dalam tim yang membuat aplikasi Shopping Advisor, sebuah apikasi untuk menyediakan informasi harga termurah untuk sembako dan beberapa keperluan rumah tangga seperti susu bayi dan pampers kepada customers melalui handphone. Secara konsep, ide ini sangat menarik dan juga mendapat dukungan penuh dari CEO dan senior management. Sayangnya kami langsung mendevelop aplikasi dan menjalankan operasinya dengan biaya besar, tanpa sempat validasi dengan cara yang baru saya ketahui hari ini :( Dalam 6 bulan saja, produk ini “dibunuh” dengan sukses, karena biaya menjalankan yang sangat besar.

Sisa acara di malam minggu kami manfaatkan untuk merangkum hasil validasi customer, dan mulai melakukan pivot, alias perubahan penawaran dan solusi berdasarkan learning kami hari ini.

Tentu saja tidak lupa Tim William mengabadikan hari yang menyenangkan ini!

Tim William - selfie

Tim William – selfie

Minggu, 11 Mei 2014

Karena anak saya, Ed, sudah dua malam demam, saya memutuskan tidak ikut workshop dihari ketiga. Sayang memang, tapi untuk urusan anak it’s easy to prioritize…

Namun dengan adanya Whatsapp, saya masih bisa mengikuti apa yang dilakukan Team William. Saya cukup kagum dengan kreativitas dan kerja keras teman-teman saya karena di hari ketiga ini mereka sudah berhasil membuat ide aplikasi yang disebut BFF. Sebuah konsep yang menurut saya cukup menarik.

Hal yang membuat saya sangat senang tentunya adalah sebuah bukti yang menunjukkan bahwa customer bersedia membayar untuk produk ini. Bahkan saat produk dan aplikasi belum kami buat!

Konsep tervalidasi!!

IMG-20140511-WA0005

 

Acara di hari ketiga adalah memvalidasi konsep setiap tim kali ini melakukan validasi terhadap konsep solusi. Setelah itu dilakukan penilaian untuk tim terbaik berdasarkan kriteria ala Lean Startup. Saya dengar yang menang adalah sebuah aplikasi yang membantu menyelesaikan isu dalam “ngutang”, tapi karena saya tidak hadir jadi ngga terlalu ngerti.

Setelah Workshop…

Saya cukup bangga karena setelah workshop, team William masih cukup sering berinteraksi dan bertemu, dan sudah mendapatkan investor yang tertarik untuk membiayai projectnya.

Mudah-mudahan product-nya bisa segera keluar dan sukses!

Seperti layaknya slogan dalam lean startup…FAIL FAST. SUCCESS FASTER.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>