Sebuah pertanyaan yang mengganggu…jadi lilin atau cermin?

minggu malam hujan…sambil merenung-renung di kamar, sambil nemenin Ed, anak saya kedua.

Ada pertanyaan “kecil” yang belakangan ini mengganggu. Sebenarnya pertanyaan ini ditujukan buat orang lain, tapi lama-lama jadi kepikiran dan mengganggu….pertanyaan ini berkisar tentang lilin dan cermin:)

Ceritanya begini…

Pertengahan Oktober lalu, saya menghadiri Ujian Doktor Pak Mardi Wu di Universitas Bina Nusantara. Topik disertasinya sangat menarik yakni tentang peran social media dalam balancing ambidexterity pada organisasi. Tim pengujinya ada beberapa, tapi yang saya inget banget ada dua yaitu Prof. Harjanto Prabowo (karena ia Rektor Binus dan mengajukan pertanyaan terkait hypothesis testing dalam bahasa yang sangat simpel) dan Dr. Handry Satriago. Yang terakhir ini mengundang tepuk tangan karena mengajukan pertanyaan “kecil” (yang akhirnya mengganggu saya belakangan ini). Pak Handry memulai pertanyaan dengan mengutip penulis Edith Warton, bahwa ada dua cara dalam menyebarkan cahaya, yakni menjadi lilin atau menjadi cermin, dan menanyakan kepada Pak Mardi “setelah anda menjadi seorang doktor, apakah anda ingin menjadi lilin atau menjadi cermin?”.

Jawaban Pak Mardi tak kalah sederhananya. Ia menjawab mungkin saat ini belum bisa menjadi lilin, jadi memilih menjadi cermin yang memantulkan cahaya.

Setelah acara selesai saya pulang.

Namun dalam perjalanan pulang sampai sekarang, pertanyaan itu mulai mengganggu karena jika itu ditanyakan kepada saya, ternyata saya belum tahu jawabannya. Bisakah saya jadi lilin yang menjadi sumber cahaya? Ataukah menjadi cermin yang memantulkan cahaya?

Kemungkinan besar juga ketidakmampuan saya menjawab karena belakangan mulai menyadari betapa saya masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan cahaya yang dihasilkan dan dipantulkan oleh Pak Handry dan Pak Mardi. Pak Handry Satriago adalah CEO GE Corporation Indonesia. Pak Mardi Wu adalah CEO Nutrifood. Sekarang dua-duanya sudah menyandang gelar Doktor, yang menunjukkan ketekunan dan kerendah hatian untuk selalu belajar (termasuk bersedia mengejar-ngejar dosen pembimbing tentunya…). Dua-duanya adalah sosok yang saya tahu tak henti-hentinya mendukung dan memberi semangat kepada anak muda untuk terus maju. Dua-duanya pemimpin perusahaan besar yang menurut saya sangat merakyat dan social media friendly (alias ga jaim!).

Secara pribadi, kedua tokoh itu, walaupun hanya kenal sekelebatan sudah menjadi cahaya buat saya. Di tahun 2000-an di sebuah perpustakaan di pedalaman Riau, saya membaca dari Majalah SWA tentang sosok Handry Satriago sebagai seorang Lean Six Sigma Master Black Belt di GE Asia Tenggara. Sebuah kisah yang mengantarkan  perjuangan saya untuk menekuni bidang itu sampai saat ini. Sosok Mardi Wu membantu saya memahami pemikiran Deming di perusahaannya, hanya dengan permintaan melalui twitter! Betapa murah hatinya ia berbagi ilmu, menyediakan waktu lebih dari 3 jam di kantornya untuk orang yang hanya kenal di sosial media.

Di minggu malam ini saya kembali bertanya-tanya…

Apakah saya sudah memberikan cahaya kepada orang lain di sekitaran saya? Mungkin belum…mungkin ada sedikit. Namun mungkin pertanyaan itu tidak perlu dipikirkan dan dijawab?

Mungkin jawabannya adalah bukan tentang INGIN, tapi untuk mulai MENJADI. Seperti mereka yang menjadi sumber cahaya saya selama ini…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>