Tentang Pujangga & Prajurit: membangun bisnis yang tidak membelenggu

“The smartest thing I ever did was to hire my weakness” – Sara Blakely

(image from shutterstock)Seorang teman bercerita bahwa ia menjadi korban kesuksesannya sendiri. Belakangan ia menyadari, semakin sukses usahanya, semakin ia susah berlibur. Semakin banyak customer-nya, semakin ia terbelenggu didepan komputer; bahkan saat ia sudah “berhasil” berlibur ke sebuah pulau terpencil yang cantik.

Teman yang lain, seorang creativepreneur, mempunyai permasalahan yang hampir serupa. Ia baru menyadari betapa kreativitas bisa menjadi belenggu yang mengharuskannya menghabiskan waktu luar biasa banyak untuk melatih karyawan yang baru masuk. Tadinya, sebagai seorang seniman, ia merasa bahwa setiap orang mempunyai ide dan gaya yang akan memperkaya kreativitas perusahaannya, sehingga ia sangat membebaskan karyawannya untuk berkreasi. Namun semakin banyak klien mengeluh betapa perusahaannya menghasilkan karya yang tidak konsisten.

Jika saat ini anda memiliki kisah dan kesulitan diatas..selamat! Anda sudah meninggalkan masa startup masuk ke zona scaling up!

Para pujangga moderen…para entrepreneur

Mari sadari faktanya. Kebanyakan founder perusahaan adalah seorang pemimpi, seorang Pujangga. Mereka visioner dan punya keberanian mengubah ide menjadi bisnis. Mereka juga mampu menginspirasi orang lain. Mereka seorang pemikir besar, dengan kelemahan besar: tidak suka detil dan tidak suka menjalankan hal rutin yang melelahkan.

Saat seorang entrepreneur memulai usaha, hanya perlu satu-dua orang mengerjakan, dan semuanya terasa mengasikkan. Tantangan untuk mendapatkan klien  menjadi sebuah kegiatan yang mengasikkan. Sang pengusaha berada dalam periode terbaiknya: mewujudkan mimpi dan mendapatkan pembeli pertama. Membuktikan bahwa idenya dicintai orang lain.

Masalah mulai muncul saat bisnis berjalan baik.

Good problems to have.

Klien dan pelanggan berdatangan, keuangan membaik. Karyawan mulai bertambah, dan bisnis mulai terasa membosankan dengan detil, proses dan aktivitas yang membosankan.

Namun mesin sudah terlanjur dinyalakan…

Saatnya memanggil bala bantuan…para prajurit moderen

Kebanyakan pengusaha memiliki intuisi bahwa mereka  memerlukan para pekerja yang mampu menjalankan tugas rutin dengan baik. Berita baiknya adalah banyak yang bersedia menjadi pekerja. Mereka adalah para prajurit di era moderen yang telaten mengerjakan prosedur rutin dan melelahkan. Mereka adalah orang-orang praktis dan pragmatis yang tidak terlalu suka berangan-angan. Mereka tipe orang yang suka kepastian dan rutinitas.

Para pekerja ini membutuhkan panduan dalam melakukan pekerjaan. Dalam dunia bisnis moderen, panduan usaha ini adalah SOP (Standard Operating Procedure) dan sistem.

Sayangnya, bagi startup dan UKM, ternyata SOP merupakan sesuatu yang sudah lazim diketahui manfaatnya, namun belum lazim dilaksanakan. Akibatnya, pertumbuhan bisnis yang pesat malah membuat banyak pengusaha semakin lelah. Banyak entrepreneur tahu bahwa SOP sangat penting namun mereka tidak sempat meluangkan waktu karena banyaknya kesibukan dari pagi sampai malam.

Dan kita perlu ingat.

Saat SOP dan sistem kita siapkan, masih ada yang harus dilakukan. Masalah belum selesai.

Punya SOP dan sistem, tidak berarti para karyawan akan langsung mengerjakannya. Bisa jadi karena tidak mengerti caranya, atau karena mereka perlu diawasi.

Kadang seorang Pujangga butuh Kepala Prajurit…

Sosok pujangga ternyata sering kesulitan untuk mengatur para prajurit. Seorang founder yang memiliki visi jauh ke depan, banyak yang kesulitan untuk mengawasi detil pekerjaan setiap hari. Terutama karena seorang pemilik usaha memang fokus pada pelanggan/klien dan pertumbuhan bisnis, bukan mengurus “printilan” di kantor.

Di sisi lain, para prajurit yang terbiasa dengan arahan dan pengawasan terus menerus, bisa jadi kesulitan menerjemahkan sebuah tugas besar dalam bentuk rutinitas sehari-hari.

Jika terjadi seperti itu, sepertinya kita membutuhkan seorang Kepala Prajurit. Ia bertugas menerjemahkan visi sang entrepreneur, memastikan SOP dan sistem berjalan, dan mengawasi para prajurit.

Sebut ia sebagai Operational Manager, Kepala Rumah Tangga, General Manager, Tangan Kanan, Supervisor, Orang Kepercayaan, atau apapun namanya. Mungkin saja ia merangkap jabatan lain, jika perusahaan masih kecil. Tapi jika anda pengusaha berkarakter Pujangga, cari orang ini. Tumbuhkan dari dalam perusahaan anda, atau rekrut dari luar.

Seorang Kepala Prajurit harus memenuhi kriteria ini:

  • Bisa dipercaya dan diandalkan
  • Senang rutinitas dan keteraturan
  • Bekerja penuh di tempat kerja anda
  • Terbiasa bekerja sistematis
  • Mampu mengawasi dan menegur anak buah/rekan-kerjanya.

The next frontier…scaling up!

Memulai usaha sangat tergantung kepada ide seorang pengusaha dan keberaniannya melanjutkan itu menjadi bisnis. Tanda keberhasilan ditunjukkan oleh adanya klien/pelanggan yang berdatangan dan angka penjualan yang terus tumbuh. Disinilah kekuatan utama seorang entrepreneur. Disini juga kelemahan para Prajurit, bahkan Kepala Prajurit. Kekuatan mereka pada detil dan rutinitas, menyebabkan mereka pada umumnya tidak bisa menciptakan hal baru dari nol.

Sebuah startup membutuhkan seorang pemimpi.  Jika saat startup berlanjut menjadi scaling up, sang Pujangga membutuhkan sang Kepala Prajurit memimpin para Prajurit untuk memastikan mimpi itu menjadi sebuah mesin usaha yang konsisten dan berkembang.

Sang pemimpi bertugas memastikan bahwa mesin itu tetap membawa marwah yang ia tanamkan. Dan pada saatnya sang Pujangga bertugas menciptakan mimpi yang baru.

Dalam setiap kisah moderen, sepertinya Sang Pujangga dan Prajurit akan menjadi kolaborasi sejati, saling melengkapi agar bisnis tidak membelenggu.

Catatan kaki

Pujangga & Prajurit adalah versi saya untuk Poet & Plumber yang digunakan oleh Bob Sutton dan Huggy Rao dalam buku Scaling Up Excellence!

Cara Pembuatan SOP saya tuliskan secara khusus di link ini dan ini .

Tentu saja, banyak pengusaha yang memiliki karakter Pujangga & Prajurit sekaligus. Mereka adalah golongan yang beruntung karena masa startup ke scaling up akan lebih mulus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>