Meningkatkan Produktivitas Saat Ekonomi Lesu (Beyond the Jargons)

 

 Dalam beberapa minggu ini tanda-tanda melemahnya denyut ekonomi Indonesia makin terasa. Kurs Rupiah terhadap Dollar yang makin melemah, harga minyak yang sangat rendah dan pasar property yang terus menurun. Beberapa diskusi dengan rekan-rekan pengusaha mengkonfirmasi kondisi ekonomi yang sedang lesu ini. It’s official! :(

Seruan peningkatan produktivitas Indonesia, menurut pendapat saya, sekarang ini hanya sebatas jargon. Peningkatan produktivitas tidak bisa di-manage hanya di level makro atau strategi di level tingkat negara. Produktivitas adalah ukuran output seorang pekerja per jam (atau dalam satuan waktu lain); dengan kata lain produktivitas riil harus dilakukan di level perusahaan, khususnya swasta.

Produktivitas Indonesia vs. negara sekitar

Dari sebuah laporan yang disusun dengan sangat baik oleh konsultan ternama McKinsey, saya mendapatkan data ini:

(Sumber: Southeast Asia at the crossroad: Three paths to prosperity — McKinsey Global Institute)

Jika saya simpulkan diagram di atas:

  • Biaya upah di Indonesia memang murah (dibanding negara-negara tetangga), namun karena produktivitas negara kita juga rendah, maka upah rendah itu tidak bisa menjadi keunggulan Indonesia, terutama dibandingkan China dan Singapura (lihat bagian paling kanan: Average daily output/wage).
  • Yang menarik adalah negara tetangga kita Singapura; walaupun upah di sana sangat tinggi, namun karena produktivitas jauh lebih tinggi, negara itu tetap menjadi negara yang menarik untuk investasi serta menghasilkan output lebih signifikan.
  • Opportunity terbesar buat kita di Indonesia adalah: bagaimana meningkatkan produktivitas kerja; dalam grafik itu, hanya Vietnam yang di bawah kita!

Mendefinisikan Ulang Arti “Bekerja”

Bagi banyak orang Indonesia, bekerja artinya “pergi ke kantor atau pergi ke tempat kerja”.

Bagi sebagian negara yang produktif, bekerja artinya menghasilkan outputatau value kepada orang lain (yang membayar kita).

Apakah anda bisa melihat bedanya?

Dengan definisi “bekerja berarti pergi ke kantor/tempat kerja”, yang penting adalah anda hadir di sana. Tidak perduli apakah anda hari ini menghasilkan output atau nilai tambah buat perusahaan anda. Selain itu tidak ada yang mengukur output kita…

Yang mengherankan, masih banyak organisasi yang menganut pola pikir ini. Semua diukur dari absen dan kepatuhan. Yang penting seorang karyawan hadir di kantor dan “tampak” sibuk. Padahal, dengan teknologi dan cara bekerja moderen, sangat gampang untuk kita “tampak produktif”. Jika saya mendapatkan fasilitas komputer, sangat mudah bagi saya untuk menghabiskan satu hari di depan komputer (membaca email, membuat presentasi, menghitung di spreadhseet) lalu beredar dari satu meeting ke meeting yang lain, tanpa hasil nyata. Begitu juga dengan seorang pekerja di lapangan; dengan adanya laptop/komputer/tablet yang ia gunakan, pekerja bisa sangat sibuk namun tidak menambah nilai kepada perusahaan.

Bringing back science to our workplace

Dalam banyak kesempatan, saat mengajurkan untuk mengukur produktivitas, saya sering menerima argumentasi bahwa pengukuran produktivitas hanya cocok untuk pekerja pabrik/buruh:

  • “saya engineer, pekerjaan saya terlalu bervariasi, tidak bisa diukur”
  • “saya orang sales, ini art bukan ilmu pasti”
  • “saya kerja di marketing, ukuran kami adalah brand awareness; sangat susah kalau diukur dengan ukuran produktivitas”

Padahal setiap pekerjaan bisa diukur dengan melihat output apa yang dihasilkan pekerjaan tersebut. Dengan ukuran output per pekerja sebagai indikator produktivitas, sebenarnya kita berusaha membawa sains ke dalam tempat kerja. Misalnya:

  • Seorang engineer bisa di ukur berapa banyak disain yang mereka hasilkan, berapa jumlah engineering review/analysis yang mereka lakukan per bulan?
  • Seorang sales person, bisa diukur berapa lead yang mereka follow up per hari? Berapa banyak telpon yang mereka lakukan? Berapa banyak lead yang akhirnya sukses menjadi penjualan?
  • Orang marketing bisa diukur dari efektivitas penggunaan biaya marketing terhadap portfolio growth? Malah mereka bisa menganalisis produktivitas tiap produk di dalam channel atau area geografi yang berbeda.

Produktivitas adalah tentang menggunakan data dan fakta untuk melihat output dan value yang diciptakan setiap orang dan setiap tim.

Resesi? Ekonomi melemah? Ini saatnya meningkatkan produkivitas!

Dalam situasi yang normal atau growth sedang tinggi, kadang-kadang yang muncul adalah jawaban ini:

“Pengukuran produktivitas itu ide yang cukup baik, sayangnya kami sedang tidak punya waktu untuk itu. Fokus kami adalah growth…growth..growth..!”

Nah, saat ekonomi melemah adalah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi dan pengukuran terhadap output karyawan anda! Segera tugaskan orang-orang terbaik anda untuk melihat output dari skala korporasi sampai skala individu.

Segera tinggalkan paradigma lama yang melihat bahwa seorang pekerja sudah bekerja baik jika ia hadir sepanjang jam kantor dan tampak sibuk. Mulai siapkan indikator output di level individu dan organisasi.

Sekali lagi ingat, dengan bertebarannya PC, laptop, dan gadget, sangat mudah seorang karyawan untuk menghabiskan waktu di kantor tanpa menghasilkan output sama sekali.

Cara meningkatkan produktivitas perusahaan anda adalah untuk mulai mengukur output, menganalisa dan membuat perubahan agar hasilnya meningkat. Selain analisis, ada beberapa hal lagi yang bisa anda lakukan seperti memperbaiki housekeeping, memperbaiki pelaksanaan SOP dan mendorong knowledge sharing.

Akhir kata, saya ingin mengutip kata-kata terkenal ini:

“If you don’t measure it, you can’t control it. If you can’t control it, you can’t manage it”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>