Persaingan Kerja di Dunia yang Mengecil

GEGarageheader

 

Saat saya bekerja di GE Money Indonesia, saya pernah ditugaskan ke bagian CRM (Customer Relationship Management) dari sebelumnya di bidang Quality/Lean Six Sigma (yang menjadi core competency saya). Untuk membantu saya menguasai bidang CRM lebih cepat, Manajemen di Indonesia dan Regional waktu itu membantu memberikan support dua orang mentor yakni Salisa yang berbasis di Bangkok, dan Soumyadeep yang berbasis di Seoul.

Competing (and Collaborating) with Global Talent

Saya ingin bercerita sedikit tentang mantan mentor saya, Soumyadeep. Pemuda India ini usianya lebih muda lima tahun dari saya, namun secara pencapaian ia jauh di atas saya. Layaknya pekerja multinasional, ia berbicara dalam Bahasa Inggris yang sangat baik. Selain memiliki technical skill yang bagus, saya mengagumi kemampuan persuasinya yang bagus sekali; ia percaya diri tapi mampu selalu cool sepanas apapun perdebatan yang ada. Di usia yang masih muda ia sudah menjalani assignment di Shanghai, Bangkok dan Seoul dan telah terbiasa beradaptasi dengan tempat dan budaya yang berbeda dalam waktu singkat. Saat itu saya sangat terbantu dengan kehadirannya dan belajar cukup banyak dari dia. Di sisi lain, saya mulai menyadari…whoa, it would be very hard to compete with him! Dan orang seperti dia banyak sekali (misalnya mentor yang satunya lagi, Salisa), dan terus terang aja, masih banyak yang jauh lebih kinclongdibanding dia. Ada orang Singapore, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Australia. Ini pengalaman saya hanya dengan region Asia Pasifik, belum termasuk persaingan benar-benar global.

Gambaran tentang Soumyadeep dan persaingan talen global itu kembali teringat Selasa 18 Agustus 2015, saat saya mengikuti sebuah forum diskusi bertajuk Developing Talent in 21st Century sebagai bagian acara GE Garage di Ciputra Artpreneur. Diskusi yang dibuka singkat Bapak Handry Satriago (CEO GE Indonesia) dan dimoderasi Bapak Rudy Affandy (GE Indonesia HR Director) ini menghadirkan Heather Wang (GE Global Growth HR VP) di sesi pertama dan Bapak Anies Baswedan (Menteri Pendidikan) di sesi kedua (catatan dari sesi Pak Anies Baswedan mungkin akan muncul di catatan berikutnya).

Angka statistik yang saya ingat adalah ini:

Global Talent Competitiveness Index (INSEAD): Indonesia no 86 dari 93 negara yang masuk dalam riset itu.

Hasil ngintip tweet Pak Handry, dapat link laporan lengkapnya (klik diatas) dan ini fakta singkatnya:

Negara kita berada di level yang lebih baik dari: Ghana, Uganda, Pakistan, Bangladesh, Algeria, Madagaskar, Yaman.

Dan…ini ranking negara-negara ASEAN:

Singapore (2); Malaysia (35); Phillippine (54), Thailand (61), Vietnam (75)

Gambaran di atas seharusnya menjadi cermin buat kita untuk bersama-sama memperbaiki diri. Paling tidak kita mulai dari diri sendiri. Persaingan global ini sudah terjadi dan akan makin agresif, bahkan tanpa orang asing secara fisik berada di Indonesia!

The Good News is…

Masih ada harapan, karena korporasi besar siap berinvestasi untuk talent yang stand out.

Ketika sebuah perusahaan melihat potensi (atau kontribusi) seorang karyawan, manajemen bersedia melakukan investasi untuk men-developkaryawan itu. Training, mentoring, coachingassignmentnew challenges. Tidak sedikit teman-teman saya orang Indonesia sekarang ini melanglang buana mendapatkan assignment di berbagai negara sebagai expatriate. Perusahaan-perusahaan besar sering mencari training terbaik untuk mendevelop karyawannya. Perusahaan menyiapkan investasi untuk mendevelop talent-nya, bahkan dengan resiko orang itu pindah ke perusahaan lain.

Buat kita para tenaga kerja di Indonesia, jika kita bisa menunjukkan potensi dan saat diuji benar-benar memberikan kontribusi besar, perusahaan-perusahaan besar bisa menjadi wahana untuk kita mengembangkan diri sekaligus berkarya. Tantangannya adalah apakah kita mau dan mampu untuk selalu menerima tantangan yang diberikan.

Plus & Delta Talenta dari Indonesia

Kepada Heather Wang (GE Global Growth HR Vice President) saya sempat mengajukan pertanyaan, menurut pengalamannya apa kelebihan dan kekurangan orang Indonesia?

Beliau memberikan penjelasan bahwa secara umum kelebihan dan kekurangan orang Indonesia mirip dengan karakter orang Asia pada umumnya.

Plus:

1. Eksekusi: orang Indonesia yang bekerja di perusahaan besar pada umumnya mampu mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka.

2. Expertise: talenta global dari Indonesia biasanya sudah memiliki keahlian yang memadai di bidangnya.

3. Customer centric: umumnya bisa menghargai dan melayani customer dengan baik.

Delta:

1. Articulating strategic thinking: kelemahan orang kita adalah sering tidak tampak untuk bisa menyampaikan pemikiran strategis. Kemungkinan karena ketidakmampuan menyampaikan pokok pikiran secara sistematis secara meyakinkan.

2. Influencing skill: nah ini saya setuju banget (ini juga kelemahan saya). Kemampuan mempengaruhi orang lain dengan cara yang elegan sering menjadi kekurangan orang-orang kita.

3. Executive presence: kemampuan untuk tampak sebagai seorang pemimpin. Ada yang menyebut sebagai kharisma atau aura pemimpin. Orang respek terhadap kita dan menghormati kita sebagai pemimpin (dan ini seharusnya tidak ada hubungannya dengan batu akik atau keris).

Mengetahui plus-delta diatas bisa menjadi modal untuk memperbaiki diri. Jangankan untuk executive presence, untuk expertise dan execution saja saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan ini!

Persaingan global bukan hanya untuk kompetisi menjadi karyawan!

Henri, sahabat dari masa kuliah yang sekarang bekerja di sebuah Private Equity di Singapura, memberi tahu tadi malam saya bahwa negara tetangga Singapura makin serius menyiapkan diri menjadi startup hub di Asia, sebagai kelanjutan keberhasilan mereka menjadi hub dalam trade, logistics sampai entertainment. Sebuah alarm buat para startup lokal di Indonesia karena market Indonesia pasti menjadi sasaran yang menggiurkan untuk dieksplorasi.

Dari sisi yang berbeda, sebagai konsultan saya bisa melihat sendiri bagaimana bisnis consulting benar-benar bisa menembus batas-batas negara. Jasa bisa dilakukan oleh konsultan dari mana saja dengan bantuan teknologi. Dan betapa saya menyadari bahwa sebagai seorang konsultan kita dituntut untuk bekerja SANGAT keras agar kompetensi kita bisa mengejar konsultan-konsultan asing. Bagi klien, yang penting solusi dan harga cocok, darimanapun asal konsultan sudah mulai tidak terlalu relevan.

Singkatnya, dunia yang makin kecil ini membawa “medan pertempuran” ke halaman rumah kita sendiri. Sebaliknya, kita dengan gampang melompat ke negara lain jika kita mau. Bekerja di perusahaan besar, menjadi pekerja lepas, mendirikan startup, semuanya bisa menjadi cara untuk mengembangkan diri asal kita siap untuk selalu mau belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>