Tentang Bahagia

birds happy

 

Adakah kamu yang pernah dikhianati seseorang yang sangat kamu cintai? Dan sampai saat ini , hal itu membuat kamu menderita ? Dikhianati memang sakit, namun tahukah kamu bahwa rasa takut akan dikhianati itulah sebenarnya yang membuat kamu menderita? Karena seperti memar di kaki saat jatuh, rasa sakit itu sebenarnya sudah sembuh. Yang membekas dan membuat kita menderita sebenarnya ketakutan hal buruk itu akan terjadi lagi.

Rasa takut adalah penghalang terbesar kita untuk bahagia.

Dan bagi kamu yang sedang berbahagia karena cinta. Apakah di saat yang bersamaan (di lubuk terdalam hatimu) kamu takut bahwa momen indah ini akan berlalu? Diam-diam ketakutan menelisik di dalam hatimu, khawatir kebahagiaan ini akan berlalu. Dan perasaan ini membuat kamu tidak berani terlalu bahagia. Terlalu takut bahwa kebahagiaan ini pada akhirnya akan menyakiti?

Rasa takut adalah penghalang terbesar kita untuk bahagia.

Mengapa mengerti tentang rasa takut ini penting buat saya? Betul sekali, rasa takut dan perasaan tidak bahagia membuat kita tidak produktif.

Tulisan ini adalah epilog dari seri Productivity Diary yang akhirnya saya putuskan untuk dijadikan sebuah buku yang akan saya hadiahkan kepada teman, sahabat, dan orang terdekat saya. Awalnya bagian tentang bahagia ini saya simpan sendiri dan tidak ingin saya publish karena terlalu sedikit yang saya tahu. Dan sejujurnya saya belum tahu jawaban terbaik untuk mencapai bahagia. Namun seperti kata teman saya Wustuk, menulis itu adalah sebuah kejujuran dan keberanian, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan saja; Sebagai pengingat diri.

Sumber ketidakbahagiaan: Aversion dan Grasping

Ketakutan akan sesuatu yang jelek menimpa kita bukanlah hanya masalah cinta, seperti dikihianati pacar atau suami. Nyatanya, ini salah satu sumber terbesar dari rasa tidak bahagia yang menimpa kebanyakan manusia. Takut kehilangan pekerjaan, takut tidak punya uang, takut terjadi hal yang buruk terhadap anak-anak atau orang yang kita cintai. Takut dengan pendapat orang lain atau takut dianggap miskin.

Semua ketakutan ini disebut Aversion.

Ada kondisi sebaliknya, namun juga merupakan sumber rasa tidak bahagia. Tidak ingin kehilangan hal yang berharga dalam hidup kita. Anda punya harta melimpah, dan tidak ingin harta itu berkurang. Anda mempunyai karir cemerlang dan ingin memastikan agar itu melekat seumur hidup anda. Anda mempunyai keluarga yang bahagia, dan anda takut akan kehilangan mereka. Setiap malam anda menyimpan kekuatiran bahwa apa yang anda punya saat ini akan hilang. Dan anda menjadi tidak bahagia.

Semua ketakutan ini disebut Grasping.

Let it be. Let it go.

Jika ada dua lagu yang bisa kita jadikan pedoman hidup untuk bahagia, maka itu adalah lagu dari band legendaris The Beatles dan lagu dari film Frozen.

Cara terbaik menghindari aversion dan grasping adalah Let it be dan Let it go.

Mengikhlaskan bahwa sesuatu yang buruk mungkin terjadi di luar kuasa kita. Bahwa kita sudah berusaha tapi hasilnya masih tidak baik. Let it be.

Merelakan dan memaafkan jika ada sesuatu yang jelek menimpa kita. Kesalahan yang orang lakukan terhadap kita. Dan juga kesalahan yang kita lakukan terhadap orang lain. Maafkan. Minta maaflah. Let it go.

Walaupun cukup mudah dituliskan dan dikatakan, kenyataannya saya belum mampu melakukan hal itu dengan baik. Cara terbaik untuk mencapai itu menurut saya untuk selalu menyanyikan dua lirik lagu (yang kebetulan enak) itu:

Let it be…let it beeee….let it bee…oooh let it beee :)

Let it gooo let it gooo… :)

Like writing on the water

Jika masih susah juga, sebuah pepatah kuno menganjurkan kita untuk menuliskan setiap ketakutan, kekuatiran, dan rasa amarah muncul. Kali ini tuliskan semua emosi itu di atas air.

Berbahagia DAN makin produktif.

Kalau kita pahami diatas, apakah cara terbaik untuk hidup dan berbahagia adalah dengan duduk diam tanpa menginginkan apa-apa? Tidak melakukan apa-apa? Tidak mempunyai apa-apa?

Karena saya belum berencana menjadi seorang pertapa atau yogi, maka yang saya tiru adalah apa yang menjadi cara berpikir Tony Hsieh. Menurut pendiri Zappos ini, ada tiga jenis kebahagiaan yang dialami manusia:

  1. Pleasure: rasa senang yang muncul saat kita menikmati sesuatu. Makanan enak, pakaian yang indah, mobil, berlibur, dan semua hal yang kita nikmati. Dalam pleasure, kesenangan sangat terkait dengan panca indra kita. Kesenangan duniawi.
  2. Passion: rasa senang saat kita sangat menikmati sebuah proses. Mencintai pekerjaan, menikmati hobi seperti marathon, diving, basket, berkebun atau melukis. Kebahagiaan dalam passion ini lekat hubungannya dengan istilah Flow atau in the zone.
  3. Higher Purpose: rasa senang yang dalam karena hidup kita mempunyai sebuah misi besar yang ingin kita capai. Mahatma Gandhi yang ingin memerdekakan India dengan prinsip ahimsa dan satyagraha. Bung Karno, Bung Hatta dan para pendiri bangsa Indonesia yang mengabadikan hampir seluruh hidupnya untuk Indonesia Merdeka. Dalai Lama yang ingin melihat manusia di Planet Bumi saling mengasihi. Orang-orang yang mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekadar menjalani hidup adalah orang-orang yang digambarkan mempunyai kebahagiaan yang dalam. Mereka mungkin pernah bersedih, tapi ada sebuah kekuatan yang selalu membuat mereka tegak dan bergerak lagi.

Menurut Tony Hsieh, sebagian besar orang tidak berbahagia, atau tidak bisa berbahagia dalam waktu lama karena terlalu mengejar pleasure, kadang-kadang mencoba menikmati passion, namun sedikit sekali meluangkan waktu untuk higher purpose. Ia menggambarkan pola pikir kebanyakan manusia adalah seperti piramida dibawah:

Kelemahan dari piramida diatas adalah bahwa jika kita terlalu banyak mengejar kesenangan duniawi, rasa bahagia itu tidak bertahan lama. Bekerja dengan passion akan memberikan kita kebahagiaan yang lebih lama, namun kebahagiaan tertinggi dan terdalam adalah jika kita mempunyai tujuan yang lebih besar dari hidup kita sendiri.

Membalikkan piramida kebahagiaan.

Oleh karena itu, Tony Hsieh menganjurkan agar kita membalikkan piramida kebahagiaan menjadi seperti dibawah:

Membuat sebuah tujuan yang menjadi Higher Purpose kita untuk menggerakkan hidup kita, meraih setiap aktivitas agar kita nikmati dalam Passion yang bergairah dan sekali-sekali menikmati Pleasure. Salah satu cara mengetahui tujuan hidup kita adalah dengan membayangkan kita sedang berbaring di ranjang kematian atau menulis obituari kita sendiri. Melakukan itu akan membantu kita untuk merenungkan apa yang ingin kita lakukan dalam sisa hidup kita?

Jika kita tahu apa yang ingin kita lakukan dalam hidup ini, saya yakin kita bisa melakukan berbagai hal setiap hari dengan tetap merasa berbahagia. Produktif dan berbahagia. Cool, huh?

Penutup

Saya tidak mengenal banyak puisi, namun puisi indah ini adalah salah satu favorit saya. Puisi yang membantu saya untuk berjuang mengatasi aversiondan grasping, serta mencoba mencari makna hidup saya sendiri. Mohon maaf atas terjemahan sangat bebas ala saya.

Wisma Tamu

(karya Jalaluddin Rumi)

Menjadi manusia adalah menjadi wisma tamu

Setiap saat ada yang datang

Kegembiraan, kesedihan, keburukan

Terkadang kesadaran singgah sebentar

Sebagai tamu tak diundang

Sambut dan jamu mereka semua!

Bahkan jika mereka adalah rombongan nestapa

Yang tanpa belas mengosongkan rumahmu

Mengangkut semua isinya

Tetap perlakukan setiap tamu dengan hormat

Ia mungkin membersihkanmu

Membawa kebahagiaan baru

Pikiran buruk, rasa malu, niat jahat

Temui mereka semua di depan pintu dengan tertawa

Dan ajak mereka masuk

Bersyukurlah atas siapun yang datang

Karena setiap tamu telah diutus

Sebagai pemandu dari alam sana

(Sebagian besar tulisan ini terinspirasi isi buku Search Inside Yourself karangan Chade Meng Tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>