Catatan Hidup di Indonesia, di era Elon Musk dan abad kebangkitan AI

by Davro

by Davro

Saya orang Indonesia, hidup di Indonesia. Sebuah catatan delapan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda diucapkan. Mengapa kita, orang Indonesia, sering alpa memahami sejarah?

Selasa, 27 Sep 2016

Dari media saya membaca bahwa hari ini di Guadaljara, Elon Musk, CEO SpaceX, mengumumkan dalam sebuah konferensi aeronautika tentang rencananya menjadi perusahaan yang pertama menerbangkan manusia dan membuat koloni di Planet Merah, Mars. Penerbangan pertama ditargetkan terjadi di 2023, dan antara empat puluh sampai seratus tahun setelah itu ia bermimpi sejuta orang bumi akan tinggal di sana. Sebuah mimpi yang mustahil? Apakah ia hanya pemimpi (atau mungkin penipu untuk mendapatkan uang)? Mungkin saja.

Tapi Elon Musk sudah membuktikan bahwa mimpi besarnya dengan SpaceX untuk membuat pesawat antariksa recycle sehingga memangkas perjalanan ke luar angkasa sudah pernah terwujud. Mimpinya yang lain tentang mobil listrik yang bukan hanya mainan atau produk riset di lab sudah terbukti dengan Tesla. Mimpinya tentang mengganti bahan bakar berbasis fosil seperti bensin atau diesel menjadi energi ramah lingkungan ia wujudkan dengan membantu (dan dalam waktu dekat, mengakuisisi) SolarCity.

Elon adalah sebagian kecil dari banyak orang yang secara serius membentuk masa depan manusia.

Rabu, 28 September 2016

Di tempat yang berbeda hanya selang satu hari, sebuah aliansi bernama Partnership on Artificial Intelligence to Benefit People and Society di bentuk oleh Google, Facebook, Amazon, IBM dan Microsoft.

Mengapa para pemain besar yang sejatinya adalah para pesaing ini perlu bekerjasama dalam membangun kecerdasan buatan ini? Google sudah mulai memimpin dengan DeepMind, IBM telah lama membesarkan Watson, Amazon sangat terkenal dengan Alexa-nya dan tentu saja Facebook dengan berbagai proyek di bahwa payung grup FAIR (Facebook Artificial Intelligence Research). Tidakkah Google bisa berjalan sendiri dengan kekuatan uang dan sumber dayanya? Hal yang sama untuk Microsoft atau Amazon atau IBM, bukankah mereka sangat luar biasa saat ini?

Sebagai orang awam, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa Artificial Intelligence adalah sesuatu yang luar biasa besar dan maha penting untuk dipecahkan oleh satu perusahaan sehingga perlu aliansi jagoan-jagoan korporasi saat ini. Dan tentu saja mereka sedang berusaha membentuk dan menentukan masa depan manusia Planet Bumi ini dalam tiga puluh sampai seratus tahun mendatang.

Indonesia, September 2016

Sementara itu di Indonesia, di belahan tempat saya tinggal, sebagian besar warga paling terdidiknya sedang sibuk beradu tulisan, opini, saling berbantah tentang berbagai perbedaan: mulai dari perbedaan suku, ras, agama, dan pertengkaran nasional tentang memilih pemimpin yang paling sesuai dengan selera masing-masing.

Topik-topik ini selalu menarik minat sebagian besar bangsa Indonesia. Karena topik ini dianggap sangat penting, debat dengan subyek ini di internet dan media sosial selalu riuh, panas, panjang dan sering berakhir dengan pertengkaran baik antara teman dan tentu saja antara orang yang justru tidak saling kenal. Saling mengancam, saling merendahkan dan membuat dikotomi “aku dan mereka” menjadi biasa. Internet dan media sosial menjadi platform “kesayangan” bangsa Indonesia untuk bertengkar dan saling menjatuhkan.

Dan ini menarik…

Di saat beberapa organisasi dan ilmuwan di luar Indonesia sedang membangun platform dunia masa depan seperti AI atau interplanetary mission, kita Bangsa Indonesia menggunakan platform internet yang dibangun bangsa lain sejak enam puluh tahun lalu menjadi “platform utama untuk pertengkaran nasional”.

Sejarah ternyata punya selera humor aneh dengan menampar manusia yang alpa belajar dari kejadian di masa lalu. Mari kita tengok sedikit catatan sejarah tentang platform internet ini.

Feb 1958

Presiden Amerika Serikat (AS), Dwight D. Eisenhower, membentuk Advance Research Project Agency (ARPA) untuk mengantisipasi jangan sampai AS dibuat kaget lagi oleh bangsa lain terutama oleh Uni Soviet yang saat itu berhasil meluncurkan satelit pertama bernama Sputnik. Teknologi peluncuran satelit ini bisa meluncurkan obyek ke luar angkasa (sehingga) tentu saja dengan mudah nantinya “mengirim obyek” ke negara dan benua lain. Misalnya? Rudal, salah satunya…

(OK, sekarang saya akhirnya mengerti kenapa AS perlu buru-buru membuat ARPA).

Agustus 1962

ARPA yang lahir di tengah perang dingin blok AS dan Blok Soviet, mencoba membangun berbagai skenario dan teknologi untuk survival jika perang nuklir terjadi. Salah satunya adalah tentang bagaimana manusia (khususnya blok AS) berkomunikasi jika semua infratsruktur telekomunikasi seperti telepon atau telegram hancur total setelah perang. Salah seorang direktur ARPA bernama J.C.R Licklider di bulan Agustus 1962 mengeluarkan sebuah memorandum berjudul “Intergalactic Computer Network” yang mengajak para pakar untuk bekerja sama dalam membangun platform baru dimana komputer bisa saling berkomunikasi, berbagi jaringan serta file. Tentu saja saat itu ide Licklider adalah sebuah mimpi mustahil bagi sebagian besar orang awam.

1963–1969

Ide Licklider menjadi obyek riset dan kolaborasi ratusan ahli di bidang komputer dan telekomunikasi, dan akhirnya di tahun 1969 menghasilkan ARPAnet, yang menjadi cikal bakal INTERNET yang kita gunakan sekarang. Butuh kerjasama banyak sekali orang dan puluhan tahun untuk menjadikan mimpi itu menjadi sesuatu yang saat ini menjadi kebutuhan pokok (terutama buat milenial). Banyak lagi produk lain dari proyek-proyek ARPA, misalnya GPS yang sekarang kita gunakan buat layanan Gojek, Uber, dan sebagainya.

Bahwa kita Bangsa Indonesia saat ini hanya menjadi penonton dan “pasar” bagi industri teknologi internet dan turunannya, sebenarnya wajar saja jika kita belajar dari sejarah dan melihat apa yang bangsa kita lakukan saat itu? Saya yakin Anda para pembaca yang terhormat sudah bisa menebak apa keriuhan masyarakat kita saat itu.

Sejarah mempunyai selera humor yang aneh karena gemar mengulang bagian yang ngga lucu.

Indonesia, 1963–1969

Jika pemahaman saya tentang sejarah benar, di tahun-tahun ini berbagai elemen bangsa kita sedang sibuk saling menghujat, saling mengganyang saudara dan bangsanya sendiri. Saat pemerintah kita sedang bosan, selintas ada ide melirik negeri jiran untuk mau diganyang juga.

Kata orang-orang tua, saat itu “revolusi” sedang hamil tua. Dan akhirnya sang anak revolusi lahir dengan menyakiti ibunya sendiri, sang ibu pertiwi. Sebuah luka dan dendam yang sepertinya belum sembuh sampai sekarang.

Orang-orang tua kita yang saling membenci, saling menghujat dan saling mengganyang di tahun 1960-an ini mungkin tidak pernah tahu bahwa dengan menghabiskan energi setiap hari untuk berkelahi dengan saudara, akhirnya enam puluh tahun kemudian menjadikan anak-cucunya hanya menjadi penonton dan pasar dari sebuah teknologi bernama internet.

Internet dibangun bangsa lain di saat bangsa kita sedang sibuk saling menghujat dan mengganyang sesama saudara enam puluh tahun lalu.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Dan hari ini kita malah menggunakan teknologi internet ini untuk saling menghujat dan mengganyang di antara kita?

Bagaimana kita bersaing dengan kerja keras Elon Musk, Sergey Brin, Larry Page, Mark Zukerberg, Bill Gates, Satya Nadela, Jeff Bezos, Ginni Rometty dan ribuan ilmuwannya yang sedang menyiapkan dan menentukan platform manusia dalam seratus tahun ke depan.

Apakah kita hendak menyiapkan anak cucu kita menjadi penonton lagi? Hanya menjadi pasar lagi?

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Bangsa kita pernah berpikir, berbicara dan bertindak berbeda. Sebuah paradigma yang melahirkan Indonesia.

28 October 1928

Delapan puluh delapan tahun yang lalu, segelintir pemuda-pemuda telah memulai sejarah yang berbeda. Melupakan semua perbedaan dengan menyatukan tekad memajukan berbagai suku di Nusantara menjadi sebuah nasion bernama Indonesia. Pemuda-pemudi yang sudah sangat muak dijajah dan dijadikan kuli bangsa lain. Pemuda-pemudi yang sudah lelah dengan perang saudara dan kebiasaan saling membantai saudara selama ratusan tahun.

Kita harus akui inilah generasi emas Bangsa Indonesia.

Kapan kita belajar dari pemuda-pemudi ini: Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Kaoem Betawi, PPPI, dan Pemuda Tiong Hoa, melupakan semua perbedaan dan bersumpah membangun bersama cita-cita luhur bernama INDONESIA?

Kapan kita belajar dari pemuda-pemudi yang pernah menyadari bahwa bertengkar dan bertikai dengan bangsa sendiri hanya melahirkan bangsa kuli?

16 October 2016

Saya menulis catatan ini sambil menyalakan seribu lilin asa di dada saya. Saya orang Indonesia, hidup di Indonesia. Dan saya mencintai Indonesia dengan segala keanekaragaman agama, budaya, suku, dan bahasanya. Dan juga makanannya, tak ketinggalan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>