Category Archives: gd-random

Mengenang Hoegeng

“Hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng” – K.H. Abdurrahman Wahid

Kutipan terkenal diatas memperkenalkan saya pada sebuah nama: Hoegeng Iman Santoso. Secara samar-samar saya mengenalnya sebagai salah satu tokoh Petisi 50 bersama antara lain Ali Sadikin, yang di jaman Orde Baru merupakan kelompok yang rajin mengkritik Presiden Soeharto.

Berawal dari sebuah keingintahuan, minggu lalu saya membeli sebuah buku berjudul Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karangan Suhartono, yang merupakan sebuah cerita tentang Hoegeng berdasar dari kenangan salah satu asistennya yakni Sudharto, atau oleh Hoegeng ia dipanggil Mas Dharto.

Buku Hoegeng

Walaupun bukanlah sebuah biografi yang lengkap, buku ini menarik karena cukup ringan dengan beberapa hal yang gampang dikenang tentang sosok legendaris ini.

Ini adalah “kenangan” saya tentang Hoegeng berdasarkan buku ini:

  • Terkenal sebagai polisi lurus dan sederhana. Ia mejadi legenda sebagai polisi yang TIDAK pernah “masuk angin” karena suap.
  • Walaupun lurus dan bersih, ternyata bukan tipikal galak atau kaku. Malah gayanya cenderung sangat sopan & sangat rendah hati. Jika menolak sesuatu yang tidak pantas, ia akan menggunakan sebuah kalimat yang sopan dan kadang-kadang dengan humor. Misalnya, menolak jatah mobil dinas  menteri dengan alasan “saya tidak punya garasi untuk tambahan mobil…”.
  •  Hoegeng mempunyai nama asli Hoegeng Iman Santoso, namun sejak beranjak dewasa memutuskan hanya memakai nama Hoegeng. Alasannya? Ia tidak yakin iman-nya tetap sentosa sepanjang hidupnya; ia tidak yakin imannya tetap teguh di dalam menjalani hidup. Ia mengatakan hanya saat mencapai ajal, orang bisa menilai apakah memang ia berhasil menjaga iman-nya. Oleh karena itu, nama lengkapnya baru dipakai lagi dengan lengkap, Hoegeng Iman Santoso, di batu nisannya. Sebagai pengakuan atas keteguhan dan kelurusan prinsipnya.
  • Saat menjabat sebagai pejabat kepolisian di Sumatra Utara, ia disambut “tim selamat datang” dari para pengusaha yang sudah menyiapkan semua alat rumah tangga, seperti kulkas, mesin cuci dll. Hoegeng dengan sopan meminta agar semua barang itu dikeluarkan. Karena tidak ada yang mengambil dan mengeluarkan dari rumahnya, akhirnya Hoegeng dan istrinya mengeluarkan sendiri hadiah-hadiah itu dan meletakkannya di pinggir jalan sampai alat-alat itu rusak.
  • Saat menjadi Kapolri, ia ganas memberantas penyelundupan mobil mewah, diantaranya pengusaha Robby Tjahjadi. Pas mau melaporkan ke Presiden di jln Cendana, ternyata Robby sudah duluan lagi kongkow disana. Itulah salah satu kekecewaan terbesarnya terhadap Soeharto…
  • Hoegeng dalam hal prestasi, “tidak mau kalah” dari anak buahnya. Salah satunya dia masuk paling pagi karena ingin menyapa anak buahnya duluan dengan “selamat pagi”saat mulai jam kantor jam 7 pagi. Pernah keduluan sekali oleh anak buahnya yang masuk jam 6 pagi, oleh karena itu beliau  mulai masuk jam 5.30 pagi.
  • Yang juga menarik, sebagai seorang polisi, Hoegeng mempunyai kebiasaan memberikan sikap sempurna hormat militer kepada anak buahnya setiap akhir hari kerja, termasuk anggota sipil. Sikap itu ia lakukan sambil mengucapkan terima kasih kepada anak buahnya…
  • Sikap lurus dan nyentrik Hoegeng kelihatannya berasal dari darah seninya. Ia adalah pemain music yang memainkan musik-musik ala Hawaii dan mempunyai kegemaran menulis karikatur. Dalam sidang-sidang kabinet, karikatur Hoegeng sering menjadi hiburan diantara para menteri, bahkan konon Presiden Soekarno sering ikut tertawa-tawa.
  • Saat menjabat sebagai Kapolri, ajudannya pernah kebingungan karena disuruh menjual sepatu Hoegeng ke pasar loak untuk mendapatkan tambahan uang. Masalahnya, sepatu itu tidak laku-laku karena bukan merek yang terkenal serta kondisi sudah jelek.
  • Hoegeng diangkat sebagai Kapolri “pertama” oleh Presiden Soeharto, namun ia diberhentikan karena alasan sudah terlalu tua di usia 49 tahun. Penggantinya, Kapolri berikutbta, ternyata berumur 53 tahun. Sebuah keanehan yang sangat khas ala Soeharto.
  • Hoegeng, salah satu Kepala Polisi Republik Indonesia, meninggal dalam keadaan miskin karena sikap lurusnya dan dikucilkan akibat berseberangan dengan Presiden Soeharto. Namun, ia tidak pernah menyesali pilihan hidupnya…

Sejarah mencatat orang besar bukan dari seberapa besar hartanya, tapi dari apa yang ia lakukan untuk kepentingan yang lebih besar. Seseorang disebut tokoh besar juga dari apa yang TIDAK ia lakukan yang bisa merugikan bangsanya.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah sikap sempurna: hormat kepada Hoegeng Iman Santoso.

Terima kasih Pak Hoegeng…

Apakah Indonesia tambah maju?

Saya mencoba melihat kemajuan Indonesia dengan aplikasi Gapminder dengan membandingkan Life Expectancy vs. Income per person di tahun 1956, 1997, 2011

Agar ada perbandingan, tentu kita perlu membandingkan dengan negara lain.

Favorit saya adalah Malaysia dan Singapore (negara tetangga), tentunya India perlu juga (populasi besar), US (negara maju), dan Nigeria (saya mencari negara yang kelihatannya tidak terlalu bagus perkembangannya).

Ini hasilnya dibawah. Jadi Indonesia tambah maju ngga? :)

1956

Screen Shot 2013-08-19 at 8.33.32 PM

 

1997

Screen Shot 2013-08-19 at 8.36.39 PM

 

2011

Screen Shot 2013-08-19 at 8.37.54 PM