Category Archives: gd-Uncategorized

Bantu share! Buku The Coconut Principles mulai 1 Jan 2017 bisa didownload gratis

TCP ebook free

 

Download dari situs slideshare via link ini http://bit.ly/2ioGmMT

Buku ini saya mulai tulis 5 tahun lalu. Tak disangka, dengan buku ini saya mendapatkan banyak sekali teman baru dan tentu saja berbagai tawaran pekerjaan yang menjadi penopang hidup saya selama ini.

Jadi saya kira sudah saatnya buku ini dilepas-bebaskan agar bisa didownload oleh banyak orang.

Premis buku ini sangat simpel: setiap orang bisa menjadi orang yang bermanfaat di lingkungannya, terutama di tempat kerja. Dan ada cara yang sistematis untuk bisa melakukan itu.

Bagi yang pernah membaca buku ini (dan menganggap buku ini cukup bermanfaat) boleh bantu bagikan ke sebanyak mungkin orang.

Selamat menyambut tahun 2017.
Mari menjadi problem solver!

Bangun Nak, Kita Sudah Terlambat

RI71

(Catatan Seorang Ayah di Ujung Agustus)

Bangun Nak…
Kita sudah terlambat.

Maaf Ayah harus menyuruhmu cepat-cepat karena Ayah telah membuatmu terlambat.

Ayah membuat generasimu serba ketinggalan, karena di saat bangsa lain sudah meluncurkan roket recycle, generasi Ayah masih perang kata-kata tentang bumi yang datar.

Oh ya, roket recycle ini dibuat oleh SpaceX, perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk. Ia juga pendiri Tesla, perusahaan mobil listrik fenomenal yang diramalkan mengubah dunia otomotif. Ia ikut mengawasi SolarCity, perusahaan yang ingin mengganti fossil fuel dengan solar energy. Betul, bangsa lain sudah disitu, kita disini sibuk bermain kata. Berdebat dalam platform maya yang dibuat oleh orang muda seperti Mark Zuckerberg atau Jack Dorsey dan teman-temannya.

Mudah-mudahan kamu mengerti anakku, kenapa Ayah mendesak kamu untuk segera bangun.

Generasi Ayah terlalu sibuk berdebat memperebutkan surga dan merasa paling layak mendaptkan kapling terbesar di sana. Bukanlah maksud Ayah mengecilkan pentingnya mengenal ilmu akhirat, namun Ayah sekarang baru sadar bahwa terlalu sibuk dengan urusan itu menyebabkan bangsa kita menjadi penonton saat kita masih hidup di atas bumi ini.

Kita sekarang hanya gemar mengkonsumsi karya orang yang lebih maju, namun tetap mencemooh mereka. Kita juga gemar bertikai karena memuja pemimpin idola kita tapi tak gemar bekerja keras pada saat debat saatnya usai.

Ayah ingin memberi contoh lagi, sebut saja tentang Travis Kalanick. Ia saat ini baru berumur 40 tahun. Idenya yang di sebut Uber, menggoncangkan lebih dari 50 negara hanya dalam 6 tahun! Dan ia mengatakan bahwa ia baru saja mulai mengubah dunia; Ia bertekad tidak akan tunduk pada regulasi negara apapun karena semua regulasi itu sudah ketinggalan jaman.

Bayangkan Nak…Jika kamu tidak cepat bangun, kita semua hanya menonton pertarungan para pengubah dunia seperti Travis dan seterunya! KIta akan menononton dan memuja orang-orang seperti Larry Page, Sergey Brin, Mark Zuckerberg…kita akan menonton hebatnya juga orang Asia bernama Jack Ma.

Dan tanpa kita sadari, orang-orang hebat itu juga makin menguasai aspek kehidupan kita di Indonesa. Orang hebat seperti Jack Ma perlahan tapi pasti akan menancapkan kuku bernama Alibaba, Ali Pay, dan Ali Express ke berbagai sudut negara kita menyusul Facebook, Uber, Google, dan PokemonGo.

Ayo Nak, segera bergegas bangun!

Tinggalkan kebiasaaan generasi ayahmu yang gemar mencemooh dan bertikai dengan saudara sendiri sambil mengelu-elukan pahlawan asing. Ayah akan berusaha agar kamu cepat bangkit dan tidak mengulangi semua hiruk pikuk tak berkesudahan ini.

Karena Indonesia selayaknya tidak hanya menjadi penonton.

(Terinspirasi oleh gambar karya David Rorimpandey)

Lean Startup Machine Jakarta 2014: sebuah catatan kecil (2)

Sambungan dari posting sebelumnya…

Tim William: conception vs. validation

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, tim kami ingin merancang sebuah solusi bagi para wanita modis yang saat nonton TV penasaran dengan baju, tas, atau sepatu artis atau idolanya dan ingin membeli secepatnya.

Oh iya, Tim kami dipimpin oleh William (yang punya ide), Gunardi, Yhanuar, Amir, Oni, dan saya. Pas acara validasi di lapangan kebetulan Oni ga ikut karena anaknya ultah. Kegiatan workshop ini membuat kami yang sama sekali ga kenal ini bisa cepat berkolaborasi.

Dalam Lean Startup, kita diwajibkan untuk fokus kepada customer dan mencoba untuk memahami apa yang menjadi “masalah” buat customer kita. Menurut kami, masalah yang ingin kami cari solusinya adalah: keinginan wanita untuk bisa mendapat informasi tentang fashion yang dikenakan bintang TV.

Hal ini penting karena banyak pendiri startup yang memulai usaha dengan sebuah produk atau jasa, dan mereka jatuh cinta kepada ide itu. Karena sang pendiri selalu menganggap produk/jasa mereka itu adalah ide brilian yang ditunggu-tunggu customer. DAN itu dilanjutkan dengan investasi-produksi tanpa validasi yang memadai kepada target customer-nya. Dalam aplikasi Lean thinking dalam process improvement, hal yang sama juga menjadi penekanan yaitu menghindari melakukan perbaikan, sebelum customer kita validasi tentang permasalahannya. Agar tidak jump to conclusion.

Dalam Go out of the Building (atau dalam Lean term juga dikenal sebagai go to gemba), tujuan kita adalah memvalidasi 3 hal: apakah customer kita memang eksis, apakah memang para wanita mempunyai problem yang kita pikirkan, dan apakah asumsi kita memang benar.

Invalidate

Saya jadi ingat pengalaman saya saat dulu di tahun 2007-an menjadi product manager di sebuah perusahaan multi nasional, kadang-kadang kita menghabiskan berbulan-bulan untuk merancang konsep yang menurut kami akan laku di pasaran. Mungkin setelah 6-7 bulan kemudian baru kami akan melakukan validasi melalui quantitative research dan focus group discussion. Selain lama, riset-nya juga mahal.

Dalam workshop ini saya sadar bahwa validasi konsep/ide brilian kita bisa dilakukan dengan cara sederhana: ngobrol langsung dengan target customer. Tapi ternyata ga gampang!

Talking to the real customers is is not easy, risky, but…fun.

Setelah mencoba memastikan memahami konsep yang akan kami buat, kami segera memutuskan menuju Sumarecon Mall. Sambil menunggu mobil datang, kami mendiskusikan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan. Dalam hati saya sebenarnya ada kekhawatiran akan mengalami kesulitan karena takut ditolak, atau ditinggalkan karena dikira om-om yang mencoba taktik baru untuk ngajak kenalan..:*). Selain itu rasanya tidak terlalu nyaman karena saya harus berkenalan dengan ABG, mahasiswi atau pekerja di mall…apa iya orang mau diajak ngobrol oleh orang yang tidak dikenal.

Untungnya kita dalam team, jadi saya yakin masa sih diantara kita ngga ada yang jago dalam hal ginian…hahaha…Sesampainya di mall yang dituju, karena waktu ngga banyak, kami bagi team menjadi dua. Yanuar dan saya, serta Amir, Gunardi dan William. Kami berinteraksi secara terus-menerus dalam grup Whatsapp.

Yanuar dan saya pertama kali mencoba berkenalan dan meminta waktu berbincang-bincang dengan dua orang gadis yang sedang duduk di sekitar tempat makan. Katanya sih lagi mau nonton film. Ternyata mereka mau ngasih waktu 10 menitan buat ngobrol. Lumayanlah buat penglaris…cuma ternyata mereka masih anak-anak SMP. Bukan dalam bayangan target customer kami, tapi kita putuskan untuk tetap ngajak ngobrol. Dari obrolan dengan mereka saya jadi tahu bahwa mereka ga jarang banget nonton tipi, fashion lebih banyak dipengaruhi oleh Youtube karena ada channel milik seorang gadis bernama Bethany Mota (baru denger!), belanja online dengan Groupon (ooh ada toh di Indonesia?), sering belanja melalui Instagram (baru tahu!) serta baru sadar ternyata brand untuk abegeh itu adalah H&M dan Forever21.

Secara saya berjenis kelamin laki-laki dan juga usia masuk kategori #anaklama, memang tersadar betul betapa jauhnya apa yang ada di pikiran saya dengan apa yang dialami segment yang menjadi target tim kami. Walaupun yang kami temui masih SMP, namun melihat behavior-nya yang sudah terbiasa dengan membeli baju online, tentunya pendapat mereka adalah masukan berharga.

Interview dengan responden berikutnya menjadi lebih lancar dan alamiah (thanks, Mas Fajar!), dan kami menjadi lebih pede lagi dalam menggali. Malah saking lancarnya, kami mulai terbiasa menghampiri dan ngajak ngobrol banyak responden di berbagai tempat. Di resto tempat kami makan, di jalanan, sampai di tempat menunggu jemputan…

William & Yhanuar: sambil nunggu jemputan masih sempet wawancara

Banyak hal yang kami dapat misalnya pengaruh channel non selebriti di Youtube, online shop di Instagram, dan banyak lagi… namun berita buruknya, banyak asumsi Tim William yang terbukti….TIDAK VALID!

ASUMSI 1: banyak cewek sering nonton tv dan dapat inspirasi dari tv. VALIDASI:  kebanyakan jarang nonton tv; inspirasi fashion dari mana aja: youtube, instagram,majalah, teman..tv juga tapi ngga terlalu signifikan.

ASUMSI 2: cewek banyak yang terpengaruh oleh idolanya dalam menentukan fashion. VALIDASI: ngga juga. Kadang-kadang ikut idola, lebih sering ikut teman, atau lihat yang lucu di majalah atau instagram. Malah ada yang ngaku maniak nonton drama Korea, tapi fashion lebih dipengaruhi fashion di UK.

ASUMSI 3: cewek ingin lebih efisien dalam menggunakan waktu dalam belanja. Dan ini salah satu asumsi kami yang paling risky. Kami berasumsi cewek saat melihat baju yang keren di tv, ingin segera tahu merek dan harganya, dan ingin beli saat itu juga tanpa perlu browsing di internet atau harus datang ke toko-toko. VALIDASI: rata-rata mengatakan menikmati windows shopping baik di internet, sosial media, maupun di mall-mall. Saat mendapatkan produk yang ok dengan harga bagus pun mereka masih ingin membandingan dengan toko atau web lain.

Di satu sisi kami semua lemas karena bingung harus memulai konsep kami dari awal, namun kami juga bersemangat karena penasaran dengan apa yang kami dapatkan. Secara pribadi, ini menjadi pengalaman baru saya, karena biasanya saya mendapatkan moment of truth seperti ini saat mengajak klien korporasi melakukan walkthrough proses untuk melakukan improvement dengan metode Lean enterprise. Baru kali ini saya mengerti maksud Eric Ries tentang konsep validated learning.

Kembali dari Sumarecon Mall, kami masih bingung dengan apa yang harus kami lakukan untuk konsep produk kami. Tapi acara workshop dilanjutkan  dengan sharing tentang Solution Validation oleh Indra Purnama. Saya sendiri telat gabung lagi, jadi ngga nangkep sama sekali apa yang disampaikan.

Skystar Ventures

Salah satu yang menarik dalam sesi Sabtu siang ini adalah introduction dari Skystar Ventures oleh Geraldine Oetama, sebuah entitas yang selain bisa menjadi partner buat startup juga menyediakan fasilitas bagi startup dalam bentuk coworking spaces dan virtual offices. Lokasinya masih di lingkungan UMN Serpong, sebuah bangunan futuristik berbentuk sarang lebah yang didalamnya banyak terdapat ruangan-ruangan bagi para startup untuk membentuk sebuah ekosistem (catatan: karena arsitektur-nya berupa gedung yang seakan-akan ditutupi oleh sarang metal berlubang-lubang, kayaknya di dalam kok gerah banget ya? William billang nyaris pingsan pas jalan-jalan didalam. Tantangan buat pengelola gedung dalam memikirkan sirkulasi dan temperatur udara).

Rudi dan saya sempet bisik-bisik untuk mempertimbangkan tempat ini untuk jadi virtual office dan tempat nongkrong mengingat lokasinya yang tidak jauh dari rumah. Dari pengalaman melihat Comma yang bisa menjadi tempat networking yang bagus banget, rasanya seneng juga melihat ada tempat yang serius buat jadi inkubator di lingkungan Serpong. Tapi mudah-mudahan walaupun letaknya deket kampus, startup dan bisnis yang masuk inkubasi ngga terlalu direcoki para akademisi. Pengalaman saya menyatakan, semakin banyak campur tangan akademisi, semakin susah bisnisnya dimulai….hahaha…wiring otak akademisi udah kebanyakan teori jadinya susah action! :)

Saat di Skystar, salah seorang mentor, Dondi Hananto, melakukan tanya jawab untuk mengetahui hasil validasi dari setiap tim. Ia juga mulai memperkenalkan konsep MVP (minimum viable product) yang kira-kira artinya produk dengan effort minimum namun cukup nyata diperlihatkan kepada customer untuk mendapatkan umpan balik dan validasi. Saya juga sempet ngobrol dengan Dondi mengenai tantangan membuat MVP di luar technology industry, mengingat kebanyakan startup sekarang dikonotasikan dengan perusahaan-perusahaan berbasis teknologi atau aplikasi. Saya cukup tertarik dengan MVP di luar aplikasi  IT, karena perusahaan saya Edraflo bukanlah perusahaan yang bergerak di bidang IT.

Lagi…Go Out of the Building!

Sabtu jam 3-an sore.

Di tengah kegalauan kami terkait asumsi Tim William yang dengan sukses TIDAK VALID, kami lagi-lagi “ditendang” panitia agar melakukan validasi lagi kepada customer. Walaupun agak setengah hati karena sekarang bingung, namun kami memutuskan untuk berpencar mencari “mangsa” para wanita modis lagi untuk diajak ngobrol. Konon di sekitaran Serpong, Dunkin Donuts 24 jam adalah tempat nongkrong yang banyak dikunjungi mahasiswi, jadi kamipun kesana. Ternyata yang nongkrong disana lebanyakan cowok, dan agak sepi..jadi dengan terpaksa kami balik ke tempat awal: Sumarecon Mall. Amir agak khawatir karena saat kunjungan tadi sering ditegur dan diikuti satpam karena ia membawa kamera SLR :) Tapi akhirnya kami nekat aja. Saat validasi ini Yhanuar dan Amir melakukan beberapa interview dengan wanita yang menggunakan hijab (bagus juga idenya, untuk melihat range yang lebih luas), dan kami bertiga sempat ngobrol dengan seorang SPG yang lagi nawarin rokok.

Selepas maghrib kami semua kembali ke UMN tempat workshop dilaksanakan, namun kali ini tempat sudah dipindahkan ke lantai dasar. Dondi kembali menjadi pembicara dengan topik Concierge MVP. Sesuai namanya, konsep ini mengajarkan para pengusaha muda untuk mencoba memasarkan ide-nya dengan cara yang manual dengan investasi seminim mungkin.

Mengutip buku Lean Startup, dikisahkan bagaimana Groupon pada awalnya dijalankan dengan email dan kupon yang dibuat dengan PDF secara manual. Intinya, sebelum investasi yang sangat mahal, sebaiknya kita menjalankan konsep dan ide kita semanual mungkin sampai terbukti orang mau membayar untuk produk atau jasa kita.

Kisah-kisah ini membuat saya kembali menyesal. Tahun 2008, saya pernah terlibat dalam tim yang membuat aplikasi Shopping Advisor, sebuah apikasi untuk menyediakan informasi harga termurah untuk sembako dan beberapa keperluan rumah tangga seperti susu bayi dan pampers kepada customers melalui handphone. Secara konsep, ide ini sangat menarik dan juga mendapat dukungan penuh dari CEO dan senior management. Sayangnya kami langsung mendevelop aplikasi dan menjalankan operasinya dengan biaya besar, tanpa sempat validasi dengan cara yang baru saya ketahui hari ini :( Dalam 6 bulan saja, produk ini “dibunuh” dengan sukses, karena biaya menjalankan yang sangat besar.

Sisa acara di malam minggu kami manfaatkan untuk merangkum hasil validasi customer, dan mulai melakukan pivot, alias perubahan penawaran dan solusi berdasarkan learning kami hari ini.

Tentu saja tidak lupa Tim William mengabadikan hari yang menyenangkan ini!

Tim William - selfie

Tim William – selfie

Minggu, 11 Mei 2014

Karena anak saya, Ed, sudah dua malam demam, saya memutuskan tidak ikut workshop dihari ketiga. Sayang memang, tapi untuk urusan anak it’s easy to prioritize…

Namun dengan adanya Whatsapp, saya masih bisa mengikuti apa yang dilakukan Team William. Saya cukup kagum dengan kreativitas dan kerja keras teman-teman saya karena di hari ketiga ini mereka sudah berhasil membuat ide aplikasi yang disebut BFF. Sebuah konsep yang menurut saya cukup menarik.

Hal yang membuat saya sangat senang tentunya adalah sebuah bukti yang menunjukkan bahwa customer bersedia membayar untuk produk ini. Bahkan saat produk dan aplikasi belum kami buat!

Konsep tervalidasi!!

IMG-20140511-WA0005

 

Acara di hari ketiga adalah memvalidasi konsep setiap tim kali ini melakukan validasi terhadap konsep solusi. Setelah itu dilakukan penilaian untuk tim terbaik berdasarkan kriteria ala Lean Startup. Saya dengar yang menang adalah sebuah aplikasi yang membantu menyelesaikan isu dalam “ngutang”, tapi karena saya tidak hadir jadi ngga terlalu ngerti.

Setelah Workshop…

Saya cukup bangga karena setelah workshop, team William masih cukup sering berinteraksi dan bertemu, dan sudah mendapatkan investor yang tertarik untuk membiayai projectnya.

Mudah-mudahan product-nya bisa segera keluar dan sukses!

Seperti layaknya slogan dalam lean startup…FAIL FAST. SUCCESS FASTER.

Ingin memecahkan masalah? Ini tips praktis untuk bisa mulai sekarang

Setiap orang punya masalah, dan semua orang ingin memecahkannya.

TAPI,

tidak semua orang berhasil. Malah, banyak yang belum mulai mencoba.

Sekarang ini kita sering mendapatkan motivasi dan inspirasi untuk memecahkan masalah. Semangat menyala. Tapi tidak mulai juga. Ada yang mencoba, tidak berhasil. Terus api padam.

Kenapa?
Karena selain semangat dan motivasi, kita perlu tahu CARANYA.

Jadi ini caranya.

A. Pahami prinsip untuk menjadi problem solver.

Ada banyak yang mengajarkan prinsip menjadi problem solver, tapi saya ingin menyampaikan yang paling sederhana, meminjam ilmu dari pohon kelapa.

(ilustrasi karya Endang/Impro)

(ilustrasi karya Endang/Impro)

1. Selalu ciptakan manfaat.

Karena masalah banyak disekitar kita, usahakan kita bisa hidup kayak pohon kelapa. Bisa ngasi manfaat dimana saja kita berada. Masalah itu ibaratnya kayak TTS yang nunggu diisi. Susah, tapi menantang..ya kan?

2. Sederhanakan

Banyak hal timbul karena dibuat ribet. Kenapa juga kita antri check-in pesawat, setelah itu harus antri bayar airport tax. Jadi masalah banyak yang bisa dipecahkan hanya dengan mencoba menyederhanakan apa yang kita lihat ribet. Kita kudu kayak pohon kelapa yang simpel dan lurus. Makanya tinggi. Jadi kita bisa mulai dengan menyederhanakan pikiran kita sendiri lho…mau mulai aja kita suka ribet. Mending kita mulai sesuatu yang sederhana tapi bisa dilakukan hari ini, daripada mikirin yang ideal, tapi ngga pernah mulai.

3. Kolaborasi

Pohon kelapa itu akur dan tumbuh dalam rumpun. Demikian juga para pemecah masalah, harus sadar bahwa solusi lebih gampang diciptakan dengan kerjasama.

Jika ingin membaca lebih banyak tentang prinsip ala kelapa ini, bisa terjun ke link ini.

B. Pelajari jurusnya

Jurus untuk memecahkan memecahkan masalah ada banyak, seperti layaknya bela diri, ada karate, silat, kungfu, dan banyak lagi.

Dalam memecahkan masalah ada yang namanya Six Sigma dengan jurus DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control), Quality Management dengan jurus PDCA (Plan-Do-Check-Action), ada yang disebut 8 langkah Toyota Business Practices, dan banyak lagi.

Karena ingin simple, saya bikin jurus sendiri yakni IDDE. Inginnya jurus ini bisa dipelajari dan diterapkan hanya dengan baca blog ini dan ngga usah pakai training!

Apa itu jurus IDDE?

1. Identify

Jurus pertama, identifikasi masalahnya dengan baik. Apa sih yang menjadi masalah kita sebenarnya? Jika masalah banyak sekali, yang mana yang paling penting untuk dipecahkan? Yang mana yang paling gampang untuk dimulai hari ini? Yang penting, apapun masalah yang ada, kita harus yakin bahwa kita bisa mencari solusinya.

Contohnya, masalah yang bikin saya pening minggu ini adalah saya sering menghabiskan waktu mencari-cari dokumen dan file di komputer. Kadang-kadang bisa habis waktu 2 jam untuk mencari 1 file. Setelah saya identifikasi lebih lanjut, ternyata ini gara-gara cara saya mengatur file tidak teratur dengan baik. Kadang-kadang saya simpan di folder yang saya beri nama project, nama perusahaan, dan macam-macam cara lain yang kadang juga bercampur dengan koleksi lagu :)

Screen Shot 2014-01-28 at 7.43.18 PM

2. Design

Jurus berikutnya jika kita sudah berhasil mengidentifikasi masalah adalah mulai merancang solusinya.

Dalam contoh saya, saya mendesain cara penyimpanan file yang lebih terstruktur. Dengan memanfaatkan pertemanan, saya bertanya pada teman-teman yang saya lihat jauh lebih sibuk tapi selalu efektif, tentang bagaimana mereka bisa mengelola file mereka. Dengan kolaborasi kita tidak perlu reinvent the wheel!  Dari beberapa saran yang bagus, saya mencari yang simpel. Folder-folder saya buat agar berurut dan mempunyai standar penamaan. Jadi ada folder khusus pekerjaan dengan nama project, klien, dan juga personal. Semua diatur agar gampang disimpan dan diakses kembali. Ini desain yang baru:

Screen Shot 2014-01-28 at 7.44.50 PM

3. Do

Jurus ketiga adalah ikut moto dari Nike: Just do it!
Lakukan segera. Mungkin solusi kita mujarab, mungkin juga ngga…tapi hanya dengan melakukan kita bisa tahu hasilnya. Jika gagal, coba dilihat jurus Design, mungkin perlu disempurnakan lagi. Jika sudah berhasil, mari kita lihat hasilnya.

4. Evaluate

Nah, jurus terakhir adalah langkah evaluasi. Kita perlu lihat, apakah dengan cara yang baru, masalahnya sudah hilang. Apa buktinya? Apakah kita melihat perubahan? Dan yang paling penting, bagaimana kita memastikan agar improvement ini bisa terus terjaga? Bagaimana caranya agara masalah yang sama tidak terjadi lagi.

Dalam contoh saya, dengan cara penyimpanan folder yang baru ini, saya selalu menyimpan dan mencari file apapun dengan gampang. Tidak ada yang lebih dari 5 menit sekarang ini. Tentu saja agar perbaikan ini tidak hilang di kemudian hari, saya perlu buat standar dan dokumentasi. Caranya? Ya menulis blog ini :P

Nah, itu tips menjadi problem solver. Yang penting diingat adalah prinsipnya,

Pertama, jika melihat masalah, apalagi terkait pekerjaan, segera kuatkan niat untuk memulai cari solusinya. Yang kedua, cari cara yang sederhana untuk memulai dan menyelesaikan. Dan ketiga, manfaatkan teman dan network dalam mendapatkan solusi. Dengan kolaborasi banyak hal bisa diselesaikan.

Jurus-jurus IDDE ini cukup sederhana untuk digunakan untuk memecahkan masalah di sekitar kita.

Mau mulai hari ini?

Klik untuk tweet post ini

Tweet: Ingin memecahkan masalah? Ini tips praktis untuk bisa mulai sekarang! http://ctt.ec/8MEb0+ #simplicity101

Berhutang pada buku dan mimpi tentang Lean Publishing

Berhutang pada buku

Saya berhutang pada buku. Tanpa buku, mungkin hidup saya jauh lebih menderita :*)

Saya anak ke 7 dari 8 bersaudara, bapak saya seorang pegawai pemda di Bali dan ibu saya seorang ” full time professional” dalam mengurus anak-anak (ya iya lah..8 anak!). Hidup kami sangat sederhana, mungkin masuk golongan ekonomi lemah. Untungnya lingkungan rumah kami kurang lebih senasib, jadi waktu itu hidup yang serba kurang rasanya normal aja…

Sepanjang hidupnya, bapak saya tidak pernah cuti. Artinya sepanjang hidup saya dari lahir sampai SMA, saya tidak pernah merasakan liburan. Namun saya tinggal di Bali, mungkin rasanya sih kayak liburan terus ya :)

Walaupun tampak sangat menyukai pekerjaan, sebenarnya ada 2 alasan kenapa bapak tidak pernah cuti (pengakuan beliau waktu kami sudah pada bekerja):

1. Kalau cuti, berarti harus pergi liburan. Nah, daripada anak minta liburan sementara uang ngga ada, mending ga usah cuti :)

2. Sebagai orang Bali, ijin kerjanya untuk urusan adat dan agama sudah kebanyakan juga sih…

Nah, waktu selama 18 tahun saya tidak pernah liburan, tampaknya hidup saya cukup menderita ya? Ngga juga. Apa rahasianya? Salah satunya adalah sebuah gedung sederhana di dekat rumah saya.

Beberapa ratus meter dari rumah saya, berdiri Perpustakaan Negara untuk propinsi Bali. Nah, jika anak-anak di kota besar sedang berlibur saat liburan sekolah, hampir dipastikan saya akan nongkrong di sana dari jam buka sampai perut lapar atau sampai mata berkunang-kunang :)

bookKebiasaan membaca menjadikan buku sebagai semacam penyelamat saya dari kebosanan atau mati gaya. Saat kecil dulu, banyak sekali buku yang sampai dibaca sepuluh kali namun tetap menyenangkan. Sekarang ini buku sudah menjadi teman sejati saya. Paradis bagi saya selalu terbayang dalam bentuk perpustakaan atau toko buku yang bagus :)

Membaca juga membawa ketertarikan yang tinggi pada profesi pengarang. Hero saya pasti seorang jagoan perangkai kata. Romo Mangunwijaya, Goenawan Moehammad, Soekarno, Gandhi sampai Seth Godin dan Malcolm Gladwell.

Itu semua alasan saya di tahun 2005 menulis ebook Mengenal Six Sigma Sederhana, dan belakangan ini menerbitkan buku The Coconut Principles.  Seperti juga membaca, menulis buku adalah sebuah kesenangan dan cara membayar hutang bagi para pengarang yang telah menghibur saya dengan tulisan mereka.

Dan kesenangan itu belakangan ini menjadi mimpi tentang Lean Publishing.

Mimpi tentang Lean Publishing

Bagi saya buku adalah sakral. Didalamnya tertuang ide dan gagasan mulia pengarangnya. (Catatan:   kecuali buku-buku tentang cara cepat menjadi kaya: semua sampah).

Jadi saya selalu sedih jika melihat buku yang ditempatkan sembarangan di rak obral atau ditempatkan di rak yang tingginya 2 meter. Gimana cara ngambilnya? Pake slam dunk? :P

Saya sedih jika sebuah buku menumpuk karena tidak ada yang membaca atau membeli. Padahal sudah dicetak ratusan ribu kopi. Berapa pohon yang sudah ditebang?

Saya sedih jika sebuah buku mempunyai banyak salah ketik atau salah lay out, namun edisi revisinya tak kunjung muncul. Karena edisi yang sekarang stoknya masih menumpuk.

Saya sedih jika buku ngga gampang dibaca. Huruf kecil-kecil atau kusam. Ngga menarik.

Oleh karena itu suatu saat saya bermimpi bahwa setiap buku tidak perlu mempunyai inventory. Ada yang mau baca baru dicetak atau didownload. Just in Time. Lean.

Dengan demikian tidak perlu lagi ada tumpukan buku atau obralan buku.

Karena semua print on demand. Atau dibaca melalui tablet, handphone, komputer.

Buku juga harus menarik. Colorful. Gampang dan menarik dibaca.

Dengan lean publishing, tiap buku makin lama akan makin pintar. Setiap buku adalah edisi yang berbeda, karena selalu direvisi dan diupdate berdasarkan feedback dan masukan para pembaca. Tidak perlu menunggu stok habis baru diupdate.

Teknologi memungkinkan itu kita lakukan hari ini.

Siapa yang punya mimpi sama?

 

 

Memahami statistik sederhana: mengapa menggunakan rata-rata gaji bisa salah?

Baru-baru ini saya secara tak sengaja membaca sebuah artikel di internet tentang perbandingan RATA-RATA gaji software engineer di beberapa perusahaan teknologi terkemuka di Silicon Valley. Dibawah ini snipet dari artikel itu.

Rata-rata gaji software engineer di Silicon Valley

Sebenarnya agak mengherankan kenapa Glassdoor menggunakan rata-rata dalam membandingkan, karena secara statistik bisa membawa kepada persepsi yang tidak tepat.

Mengapa perbandingan gaji dengan menggunakan RATA-RATA tidak tepat?

Dari table diatas, kita bisa beranggapan bahwa karyawan Juniper memiliki gaji yang lebih tinggi dari perusahaan lain. Betul?

Mungkin tidak. Rata-rata sangat rentan dengan adanya variasi yang besar. Ambil contoh, Juniper mempunyai rata-rata gaji tertinggi, mungkin saja karena ada seorang engineer yang gajinya guedeeeee buangeet :)

To support my point, saya mencoba membuat table gaji imajiner (hehehe) dari 4 perusahaan dengan rata-rata tertinggi: Juniper, Linkedin, Yahoo, Google. Saya mengasumsikan ada 5 sampel engineer yang saya ambil dari tiap perusahaan.

Tabelnya adalah seperti dibawah ini. Kita bisa lihat bahwa rata-rata tidak dapat digunakan untuk menarik kesimpulan, apakah real numbers (gaji) benar-benar secara konlusif memang mewakili distribusi.

Juniper, rata-rata tertinggi mungkin terjadi karena ada 1 orang dengan gaji sangat tinggi. Beda dengan LinkedIn yang distribusinya hampir merata (ala sosialis), beda dengan Google yang mempunyai 2 kasta (grup) yang berbeda.

Screen Shot 2014-04-04 at 7.34.14 AM

 

Tentu saja ini hanya angka imajiner. Namun demikian, ini menunjukkan bahwa angka rata-rata saja tidak dapat digunakan untuk membandingkan set dari berbagai data, apalagi gaji.

Yang lebih robust adalah menggunakan median, atau jika menggunakan rata-rata, sebaiknya dicantumkan angka standar deviasi, seperti dalam tabel diatas.

Bagaimana menurut anda?

 

Riau, Asap dan kita

Minggu lalu pesawat yang saya tumpangi, tidak bisa mendarat di pekanbaru karena asap tebal dan harus mendarat di Batam untuk menunggu sampai jam 9 malam sampai bisa diterbangkan ke pekanbaru. Pesawat balik ke Jakarta, juga harus mengalami delay 4 jam. Selama di Pekanbaru & Rumbai, hidup sungguh tidak nyaman karena udara sangat tidak sehat.

Dalam keadaan ngomel-ngomel menyalahkan pemerintah dan para pembakar hutan (menurut saya kebakaran itu 90% faktor manusia, sengaja/tak sengaja), saya mulai sadar:

1. Pemerintah Daerah Riau adalah salah satu pemda yang relatif tidak berhasil mengelola daerahnya. Ngurusin jalan propinsi dan penerangan jalan aja ketinggalan jauh dibanding propinsi tetangganya. Jadi nunggu pemda ngasi solusi aganknya terlalu tidak praktis.

2. Kalau pemerintah pusat, sekarang lagi prihatin….jangan terlalu banyak dituntut macem2 

3. Mungkin kita, para korban yang perlu bergerak mikirin solusinya? Seperti kata pepatah tiongkok kuno ini “jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin”.

Saya baru sadar, asap di Riau ini adalah recurring problem….topik yang selalu saya ajarkan di tiap training….walaupun masalahnya sangat rumit, ngga ada salahnya kita mengajak anak-anak muda untuk mikirin solusi.

Nunggu pemerintah dan (apalagi) caleg kayaknya duluan anak saya wisuda S3 dibanding mereka cari solusi…

Yuk, ada yang punya ide bagus, boleh di komen ya…