Category Archives: gd-Uncategorized

Menangani demam, diare, muntah pada balita: mengapa terlalu cepat memberi obat tidak baik?

sebuah catatan kecil dari orang awam, bukan dokter.

ketika si kecil sakit…

sebagai orang tua dengan dua anak balita yang sangat aktif dan selalu berlarian kesana-kemari, tidak ada yang lebih melemaskan lutut dan membuat hidup jadi muram dibanding anak yang sedang demam, diare atau muntah-muntah. Terlebih lagi sampai anak harus dirawat di rumah sakit, benar-benar membuat kita panik dan sedih sekali.

ingin cepat anak sembuh—> jump to conclusion

biasanya saat anak demam, saya sering meminta istri saya untuk memberi obat penurun panas.

kalau anak muntah atau diare, saya akan cepat mencari obat untuk menghentikan muntah dan diarenya.

Untung istri saya lebih nurut sama dokter anak kami, dr. Rudi, yang sangat berhati-hati memberikan obat.

Pernah saat anak saya Ed sudah sangat lemas karena diare, muntah, dan demam, saya meminta dokter untuk memberikan obat secepatnya, namun saya mendapat penjelasan yang sangat masuk akal dari dr. Rudi.

Penjelasan yang saya sangat kenal, karena sangat rasional dan mirip dengan penjelasan saya saat menjadi konsultan untuk “mengobati” penyakit perusahaan :)

dr. Rudi kurang lebih mengatakan “gejala, bukanlah penyakit. Pahami penyebabnya, dan jangan langsung asal memberi obat.”

Demam, diare, muntah bukanlah penyakit, itu hanya gejala

Dokter anak saya menjelaskan bahwa demam bukanlah penyakit. Demam adalah mekanisme pertahanan tubuh manusia untuk melawan virus, bakteri, atau “benda asing” yang tidak diinginkan tubuh. Kenapa tubuh jadi panas? Karena enzim-enzim pertahanan tubuh bekerja makin aktif disaat temperatur tubuh kita naik diatas 37 derajat Celcius. Semakin panas tubuh kita, enzim bekerja makin aktif. Jadi badan panas adalah tanda tubuh kita melawan penyakit.

Terlalu cepat memberi obat penurun panas, akan menyabotase kerja ensim pertahanan tubuh anak kita. Dalam jangka panjang, daya tahan tubuh menjadi lemah karena tidak pernah berfungsi dengan baik…

Tentunya kita sebagai orang tua juga harus berhati-hati karena jika suhu anak terlalu tinggi bisa menyebabkan kejang yang membahayakan otak. Intinya, kita harus selalu observasi dan tahu kapan saatnya memberikan obat (misalnya di suhu 39 C).

Diare dan muntah juga adalah mekanisme pertahanan tubuh anak untuk mengeluarkan virus, bakteri, racun dari tubuh. Terlalu cepat memberikan obat anti diare dan muntah akan menyebabkan racun atau virus tidak keluar…jadi walaupun diare berhenti, artinya sumber penyakit justru akan tinggal di tubuh anak kita.

Jadi kita harus sabar dan terus mengobservasi anak sebelum memberikan obat diare dan muntah.

Tentunya hal yang harus diperhatikan saat terjadi hal itu adalah mencegah dehidrasi. Memberikan cairan oralit sangat penting dalam hal ini. Namun kita para orang tua sering mengalami, anak kecil susah banget mau minum oralit :) Ini seni membujuk yang kita para orangtua perlu latih banyak (termasuk saya)

Dan ada hal-hal yang perlu kita tangani segera ke dokter misalnya muntah setelah terbentur.

Jika diringkas, intinya kita para orang tua mesti sabar dan selalu mengobservasi anak kita saat sakit, tidak terlalu cepat memberikan obat (karena tidak baik untuk jangka panjang si anak), namun jangan juga terlalu terlambat, karena juga berbahaya.

Inilah seni yang sampai sekarang selalu membuat saya dan istri jantungan…

terakhir, kenapa konsumsi obat yang mengandung antibiotik?

hampir semua dokter mengatakan, bahwa antibiotik tidak bisa membunuh virus.

hampir semua dokter juga mengatakan, bahwa 70%  demam, diare, muntah pada balita disebabkan oleh virus.

oleh karena itu, kenapa banyak dokter rajin memberikan antibiotik? kenapa kita sering minta antibiotik?

dalam takaran yang tidak pas, antibiotik membunuh organisme yang baik dan diperlukan serta membuat organisme yang tidak baik semakin imun. Akibatnya anak malah lebih sering sakit…

 

A test for leadership: what would you do as a leader?

Ide ini berasal dari seorang teman saat kami mendiskusikan topik yang menjadi perhatian di kalangan profesional: Kasus Bioremediasi Chevron dan Kasus Indosat/IM2.

Ini sebuah sayembara tanpa hadiah DAN hanya berlaku buat para leader & future leader ;)

dilemma

 

The test

Pertanyaan yang harus anda jawab:

“JIKA ANDA SEORANG PEMIMPIN PERUSAHAAN MULTINASIONAL YANG MENJUNJUNG TINGGI PERATURAN YANG BERLAKU DAN MEMPUNYAI ETIKA BISNIS TINGGI,  NAMUN ANDA BEROPERASI DI NEGARA YANG PELAKSANAAN HUKUMNYA TIDAK SELALU BERSIH, APA YANG HARUS ANDA LAKUKAN JIKA KARYAWAN ANDA DISERET KE PENGADILAN DAN BAHKAN DIPENJARA?

ANDA TAHU KARYAWAN ANDA TIDAK BERSALAH, SELURUH PIMPINAN DAN KARYAWAN TAHU, SANG “TERDAKWA” TIDAK BERSALAH, NAMUN DI SATU SISI PROSES PENGADILAN SUDAH BERJALAN DIMANA DIBALIK LAYAR ANDA MELIHAT BANYAK SEKALI KEJANGGALAN KARENA SUPREMASI HUKUM DI NEGARA INI TIDAK SELALU TEGAK.

APA YANG HARUS ANDA LAKUKAN?”

Ditunggu pendapatnya!

——————————-

Bagi yang ingin mengerti permasalahan dan menjawab lebih baik, ini sedikit latar belakang dan hal yang menjadi persoalan pelik.

Background

Menurut saya dan banyak teman lainnya yang mencermati dari dekat kasus Bioremediasi Chevron dan Kasus Indosat/IM2, jika terjadi di negara lain kasus ini adalah sebuah slam dunk bagi tim pembela para terdakwa: NO CASE.

Banyak sekali kejanggalan yang terjadi yang pernah saya paparkan sebelumnya. Komnas HAM menemukan paling tidak ada 11 pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam kasus bioremediasi Chevron yang dilakukan oleh institusi hukum Indonesia. Kepala SKK Migas, Wakil Menteri ESDM, dan divisi terkait KLH  sudah dengan lantang menyatakan pembelaannya terhadap Chevron (dan kontraktor Chevron) dengan menyatakan TIDAK ADA PELANGGARAN dan kasus ini terjadi lebih karena ketidakpahaman jaksa memahami teknis dan kontrak PSC. Kasus terjadi karena Kejaksaan Agung tidak melibatkan dan berkonsultasi dengan tim teknis dan tidak menggunakan Undang Undang lex specialis

Hal yang sama terjadi juga dalam kasus Indosat/IM2, Menkominfo berulang kali menyatakan kasus korupsi yang didakwakan tidak ada. Sangkaan korupsi terjadi karena Kejakgung tidak mengerti prinsip penggunaan frekuensi serta tidak berkonsultasi dengan lembaga terkait termasuk tidak menggunakan UU Telekomunikasi.

Kalangan profesional, alumni berbagai perguruan tinggi (seperti ITB, UI, ITS, IPB, Trisakti, dan lain-lain) telah menyatakan dukungannya terhadap para terdakwa.

Dilema

Sebagai seorang pemimpin di perusahaan multinasional anda wajib tunduk dan mematuhi kebijakan dan peaturan perusahaan. Anda harus mematuhi peraturan pemerintah baik itu pemerintah negara asal perusahaan anda, juga perusahaan lokal tempat anda menjalankan operasi. Terlebih jika perusahaan anda terdaftar sebagai perusahaan yang sudah go public, kewajiban good governance dan compliance menjadi salah satu faktor yang akan menjadi kriteria menentukan stabilnya harga saham.

Disisi lain, anda sangat menyadari bahwa supremasi hukum di negara tempat anda beroperasi belum ideal. Beberapa oknum dari lembaga hukum berlindung dibalik undang-undang dan proses hukum (yang sengaja/tak sengaja) diselewengkan yang berakibat beberapa karyawan anda menjalani hari-hari yang panjang dan menyakitkan di depan pengadilan dan bahkan beberapa sudah dipenjara. Dan anda tahu mereka tidak bersalah sedikitpun.

Sehingga ada 2 pilihan yang sama-sama menyakitkan:

1. Mematuhi dan mengikuti proses hukum yang berjalan: ini akan menjaga reputasi perusahaan anda, namun disisi lain membiarkan karyawan yang tidak bersalah (juga keluarganya) menjadi korban.

2. Melakukan perlawanan secara frontal dengan segala cara: ini akan menguatkan karyawan dan keluarga yang menjadi korban bahkan bisa membebaskan/mengeluarkan mereka dari dakwaan dan jeruji penjara, namun bisa membahayakan reputasi dan juga kelangsungan perusahaan anda.

Mana yang akan anda pilih?

Adakah pilihan yang lebih baik?

Seorang pemimpin mungkin akan bisa menjawabnya…

And I know, the issue and the answer is not that simple. But a true leader always comes with the simplest answer.

Indonesia 2030, mengapa kita harus jadi wirausaha

Dari laporan McKinsey Global Institute yang berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential saya coba menyarikan betapa besarnya peluang untuk bisnis, terutama di 4 sektor: jasa, pertanian/perikanan, energi, dan sumber daya manusia.

Bagi yang sedang memikirkan peluang bisnis, boleh deh direnungkan…:)

McKinsey Indonesia 2030

 

butuh foto….help..!

Butuh bantuan teman-teman yang hobi fotografi :) Untuk keperluan buku saya yang akan terbit segera yang berjudul The Coconut Principles (TCP), saya membutuhkan foto yang keren yang bisa mewakili salah satu quote ini:

1. ” Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan Lilin” (Anies Baswedan)
2. “Simplicity is the ultimate sophistication” (Leonardo da Vinci)
3. “All of us is smarter than any of us” (IDEO’s culture)

Jika ada yang rela menyumbangkan foto kerennya, selain kredit sbg fotografer dalam buku, saya akan mengirimkan beberapa buku TCP kepada teman yang mengirimkan fotonya.

oh ya alamat email saya gede.manggala@gmail.com

ayo bantu wujudkan buku The Coconut Principles

ini crossposting dari blog the-coconut-principles.com

————————————————————–

terinspirasi oleh banyak proyek-proyek kreatif di Kickstarter dan proyek film Mira Lesmana dan Riri Riza yang berjudul Atambua 39oCelcius di wujudkan.com, saya memutuskan untuk ikut terjun menggunakan format crowdfunding; masyarakat yang tertarik atau para calon pembaca bisa membiayai proyek ini sejak dini.

Pilihan saya adalah melalui wujudkan.com. Seperti disampaikan dalam situsnya,Wujudkan.com adalah sebuah website untuk artis, seniman dan kreator Indonesia mendapatkan dukungan dari kita semua untuk mewujudkan karya kreatif mereka.

Bantu ya mewujudkan mimpi mencetak buku yang simpel & praktis tentang problem solving di tempat kerja kita..

Ini ide BESAR saya: mari LAKUKAN hal yang KECIL dengan sangat sangat baik :D

Sebuah kolom di koran Kompas (lupa kapan, hanya baca sekilas judulnya saja) kira-kira berbunyi: SBY butuh Gagasan Besar untuk Mengejar Ketertinggalan.

Menurut saya, gagasan BESAR yang diperlukan sebenarnya adalah: MELAKUKAN apa yang sudah diomongkan, dijanjikan dan ditargetkan. Ga usah cari gagasan dulu nanti kebanyakan rencana dan janji :)

Saya punya pemikiran, daripada mikirin negara ini yang sekarang dipimpin banyak orang tua dan orang muda yang keblinger dan sibuk dengan mencari gagasa besar, gimana jika kita  melakukan tiga hal kecil ini dengan sangat baik. Maksudnya dengan sangat sangat sangaaaat baik.

1. Tidak korupsi atau tidak mengambil yang bukan hak kita

2. Buang sampah pada tempatnya

3. Tidak menyalip dari kiri kalau sedang nyetir.

Saya yakin, kita bisa jadi bangsa hebat kalau 60% rakyat Indonesia melakukan hal kecil itu dengan disiplin.

MAU?

Systems Thinking and Sustainability (via Mike Plugh)

great post which I have to repost for my reminder and also sharing for others

In my prior post, "We are Air," I introduced the idea of systems thinking via the duo of Gregory Bateson (with a hat tip to his daughter Nora) and the biologist David Suzuki. The driving force behind my scholarship and my life's work is the idea that the world offers sufficient opportunity for learning, particularly via our respective communities, that the medium of education ought to be rethought, particularly in an age when information is abund … Read More

via Mike Plugh