Tag Archives: apple

Cerita sekitar iPhone: bagaimana Apple berinovasi seperti startup

Seperti yang pernah ditulis sebelumnya, saya belakangan ini banyak membaca cerita tentang Apple terutama dari biografi Steve Jobs dan Jony Ive. Selain itu, untuk mendapat cerita dari perspektif lain, saya membaca buku karangan Adam Lashinsky yang berjudul Inside Apple.

Salah satu hal yang menarik dari ketiga buku itu adalah kesan yang sangat kuat tentang keinginan Steve Jobs untuk menjaga Apple agar tetap beroperasi layaknya perusahaan yang baru lahir alias startup. Malah terkesan, ia sedemikian paranoid berusaha menjaga Apple agar tidak berubah seperti perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Tadinya saya bertanya-tanya, apa maksud Steve Jobs? Mengapa ia selalu menekankan kepada karyawannya bahwa “sekali kita bekerja layaknya perusahaan multinasional besar lain, kita akan menghasilkan produk yang medioker”

Nah, kebetulan belakangan ini saya banyak berkenalan dengan perusahaan-perusahaan kecil dan startup. Berinteraksi dengan mereka perlahan-lahan membantu saya mencerna kaitan antara “startup” dan “inovasi” serta antara “perusahaan besar” dan produk yang “medioker”.

“Startup akan tetap mengejutkan perusahaan-perusahaan besar!”

Itu bukan kata-kata dari Steve Jobs, tapi kata-kata dari Eric Ries, pengarang buku Lean Startup. Dalam sebuah wawancara dengan McKinsey, pengarang yang juga seorang Venture Capitalist dan pendiri perusahaan IMVU itu mengatakan kebanyakan perusahaan besar tidak akan bisa menghasilkan inovasi dengan kecepatan dan kualitas yang sama dengan perusahaan kecil. Kenapa? Sebenarnya bukanlah karena startup lebih pintar atau lebih kaya, malah justru sebaliknya, perusahaan besar memiliki sumber daya dan dana yang jauh lebih banyak. Kelemahan perusahaan besar dalam menghasilkan inovasi semata-mata karena cara perusahaan besar mengelola inovasi dan pembuatan produk/servis barunya terlalu birokratis dan linear. Terlalu banyak box/departemen yang terlibat dan sangat susah untuk melakukan iterasi jika diperlukan untuk merombak total konsep saat product team melihat konsep yang dibuat tidak akan berhasil. Selain itu, Eric Ries mengatakan, permasalahan terbesar bekerja di perusahaan besar adalah menganggap kegagalan selalu negatif. Gagal berarti performance menjadi buruk dan mendapat konsekuensi jelek dalam gaji dan promosi. Apa yang akan dilakukan karyawan pada umumnya? Main aman dan konservatif. Buang semua ide gila dan inovatif!

Betul demikian?

Dari pengalaman saya pribadi, apa yang diungkapkan Eric Ries betul sekali. Hal itu membantu saya menyadari mengapa Steve Jobs sampai jadi paranoid menjaga agar Apple new product development jangan sampai menyerupai proses di perusahaan-perusahaan besar yang waktunya terlalu banyak habis dalam diskusi dan presentasi dari satu komite ke komite yang lain. Terlalu banyak pembahasan dari satu meeting ke meeting yang lain. Berputar-putar dari satu review board ke executive board ke board yang entah apalagi namanya. Dari persetujuan di level country, ke level regional, ke level global.Terlalu banyak menghabiskan waktu memperbaiki presentasi powerpoint, daripada memperbaiki produk atau projectnya sendiri. (Konon, Steve Jobs melarang presentasi power point dalam product review yang ia hadiri).

Nah, disinilah pengalaman baru saya berinteraksi dengan pengusaha kecil dan startup terasa sangat kontras dengan pengalaman saya dulu menjadi product manager di sebuah perusahaan besar. Oleh karenanya saya mencoba menggunakan case study iPhone sebagai kerangka memahami cara berpikir Steve Jobs dan Eric Ries mengadvokasikan agar kita menjadi “startup” dalam melahirkan produk/service baru. Sekali lagi sumber informasi saya dapatkan dari ketiga buku yang saya sebutkan di awal tulisan.

Nah mari kita ikuti bagaimana dalam pembuatan iPhone, perusahaan yang bermarkas di Cuppertino, California ini mendevelop produk layaknya sebuah perusahaan kecil.

Case Study: iPhone product development, sebuah kisah singkat tenting project management

1. Customer-Centric vs. Management-Centric

Salah satu ciri khas startup adalah pada fokus yang sangat besar pada hipotesis bagaimana produk/jasa yang sedang dibuat akan mempengaruhi customer dan user. Malah, startup pada umumnya sangat berambisi untuk memberikan “wow”, menghasilkan sesuatu yang baru atau perspektif yang segar kepada pelanggannya. Dalam kata-kata Steve Jobs, sebuah karya yang akan “meninggalkan tanda di alam semesta”.

Apakah perusahaan-perusahaan besar tidak ingin menghasilkan hal yang sama? Tentu saja niatnya sama. Namun di perusahaan besar ada fokus lain (yang menjadi gangguan) yaitu pada sebuah hipotesis, apakah sesuatu yang keren ini akan disukai oleh manajemen? Apakah Direktur Keuangan akan setuju? Apakah Kantor Regional memberikan restu? Apakah headquarter di amerika sono memberikan ijin kita menghasilkan iklan yang nyeleneh ini? Dan saya tidak akan melanjutkan jika product/project ini terkait dengan proses yang terjadi jika ada kaitannya dengan ijin dari Pemerintah Republik Indonesia…(maybe another story).

Inilah distraction yang menyebabkan banyak kompromi terjadi dalam proses di perusahaan besar. Ditambah lagi seluruh tambahan waktu (lebih banyak yang non-value-added dalam menunggu approval ). Bisa dibayangkan betapa lama waktunya dan betapa banyak hal yang mengalami kompromi.

 2. Attention to details

Hal kedua yang menjadi titik penyadaran saya dalam berinteraksi dengan startup adalah betapa detil mereka melihat produk dan jasanya, termasuk dalam menyiapkan proses untuk membuat itu sampai kepada pelanggan. Saat desain iPhone Jony Ive menceritakan dalam biografinya, bagaimana mereka mencoba berulang kali berbagai macam material untuk casing iPhone, metal, aluminimum, titanium. Juga untuk layar, berbagai macam plastik dan kaca. Dikabarkan juga Steve Jobs membawa dan menggunakan prototype iPhone (yang tadinya berlayar plastik) sebagai alat komunikasinya sehari-hari dan dia sangat membenci banyaknya goresan yang ada akibat gesekan dengan kunci yang ia simpan di kantong. Ini sebabnya ia memutuskan menggunakan layar kaca. Seorang CEO melihat dan mencoba prototype-nya sampai sedetil itu. Bayangkan…

Dan tentu saja adalah bagaimana memadukan berbagai macam material itu agar telepon tetap berrfungsi dengan bentuk yang cantik. Bukan hanya itu, para eksekutif Apple terutama Steve Jobs dan Jony Ive menghabiskan banyak sekali waktunya untuk mencoba membuka berbagai macam desain box iPhone. Mereka ingin memastikan produk itu memberikan “wow” sejak masih dalam box-nya.

Bukti lain dari atensi kepada detil adalah bagaimana Apple bermain-main dengan sebuah teknologi yang di pertengahan 2000-an belum banyak digunakan secara komersial, yaitu teknologi multi-touch. Dengan sangat detil mereka mencoba bermain dan bereksperimen dengan segala kemungkinan dan berbagai ukuran, mulai dari ukuran layar raksasa sampai kepada hanya ukuran yang sangat kecil. Ini sebabnya banyak paten Apple terkait dengan teknologi ini. Cerita terkait multi-touch dan paten Apple secara menarik dikisahkan di link ini 

(source: Mashable)

3. Every product start with a customer story

Yang juga menarik buat saya adalah hampir semua produk yang berhasil dimulai dengan sebuah cerita. Itu sebabnya para penemu dan inovator selalu bercerita tentang awal inspirasinya. Tentang kekesalan Piere Omidyar ingin menjual lemari es yang susah laku sehingga menciptakan eBay. Frustrasinya Richard Branson saat terdampar di bandara Necker Island sehingga memutuskan untuk mencharter pesawat bareng sesama calon penumpang, yang melahirkan ide Virgin Air.

Setiap startup dan inovasi dimulai dengan sebuah cerita saat mereka menjadi seorang customer.

Bagaimana dengan iPhone?
Tentu saja dimulai dari ketidakpuasan Steve Jobs dengan semua ponsel yang ada. Terlalu bulky dan ngga keren. Ia ingin sesuatu yang jauh lebih menawan, sebuah masterpiece didalam kantong. Secara desain, Jony Ive memulai ide desainnya dengan cerita yang terinspirasi oleh infinity pool.

infinity pool

 

“Ada kemurnian dalam kolam renang seperti itu. Elegan tapi tidak sombong. Ia menawan tapi mengundang kita datang” demikian kira-kira desainer terkenal itu memulai ceritanya. Jadi cerita itu membawa seluruh team Apple untuk memikirkan seluruh aspek dari material, software, cara machining, sampai finishingnya. Jika kita melihat hasil akhirnya, apakah kita bisa melihat keanggunan sebuah infinity pool dalam iPhone?

Bagaimana dengan produk/jasa yang dibangun di perusahaan besar? Jarang sekali saya melihat atau mendengar perusahaan konglomerat memulai dengan cerita personal seperti itu. Semuanya dibuat dengan pemikiran “me too”. Oh… ada produk A laku di pasaran, mari kita bikin lebih murah dengan membuat lebih banyak. Oh… konon Jasa B sekarang lagi digemari, mari kita buat juga agar perusahaan makin untung.

Meh. Medioker.

4. Keberanian berkesperiman dengan lebih dari satu ide dan “membunuh” semua prototyope yang ada, jika tidak ada yang menghasilkan efek “WOW!”

Sebagai sebuah konsekuensi logis, awalnya iPhone dibangun dengan konsep iPod + fungsi telepon. iPod membuat Apple menjadi perusahaan yang sangat berhasil, jadi sangat wajar jika konsep ponsel mereka adalah menambahkan fitur telephony. Mereka menamakan konsep ini P1.

Yang menjadi menarik adalah…

Steve Jobs meminta tim Jony Ive untuk juga memulai konsep yang sama sekali berbeda, yang disebut P2. Konsep P2 menggunakan teknologi multi-touch sebagai dasar ponselnya.

Sebagai catatan buat para entrepreneur, konsep 2 produk dibuat bersamaan tentu mengingatkan pada konsep A/B split test dalam metode Lean Startup yang sangat layak kita jadikan sebuah model dalam merancang produk kita.

Kembali ke iPhone development…

Kedua tim ini berkompetisi dan bekerja secara terpisah. Sampai titik dimana P1 dianggap lemot, norak dan lebay (mengunakan scroll wheel untuk memencet nomor telepon? ) akhirnya iPod + fungsi telepon dibunuh. Setelah ratusan jam kerja mencoba. Just like that.

Dari konsep P2, apa selanjutnya? Apple membuat lagi 2 konsep yang berbeda sebagai turunan P2, konsep pertama diberi nama Extrudo dan konsep kedua diberi nama Sandwich. Sekali lagi ini dibuat oleh team yang berbeda yang saling berkompetisi.

Sekali lagi sesuatu yang menarik terjadi. Steve Jobs tidak menyukai kedua prototype yang ada, terutama Extrudo. Akhirnya mereka “membunuh” konsep Extrudo. Namun Sandwich juga tidak memuaskan mereka. Jony Ive lalu menyuruh seorang desainer bernama Shin Nishibori, yang dulu mereka hire dari Sony, untuk membuat desain yang berbeda yang bisa menjadi alternatif dari konsep Sandwich. Secara bercanda, Nishibori menaruh logo Sony dibelakang casing, dan memlesetkan logo Sony menjadi Jony, sehinga konsep ini secara internal disebut Jony phone. Pada intinya sebuah produk yang bagus merupakan hasil mencoba-coba (dengan metode dan dokumentasi yang baik) berulang kali. Iterasi.

Dari semua iterasi itu dan keberanian membunuh produk yang tidak mengesankan, akhirnya mereka  berhasil mendapatkan desain yang menghasilkan inspirasi infinity pool yang diinginkan. Voila!

Bagaimana dengan perusahaan besar?  Saya melihat jarang sekali yang berani mendedikasikan resources untuk mencoba 2 track yang bersamaan. Sering mencoba beberapa alternatif, namun tidak serius, hanya formalitas karena fokus dan “favorit” sudah jatuh ke satu konsep. Akibatnya saat konsep itu tidak terlalu mengesankan, produk dipaksa lahir…akibatnya perusahaan besar sering melahirkan anak yang tidak diinginkan. Bagi teman-teman product manager, business development, marketing yang bekerja di perusahaan besar, mungkin saatnya kita belajar lagi dari startup dan Apple.

5. Jadwal yang super ketat dengan output yang jelas: “real artist ships

Salah satu impresi saya yang paling kuat tentang Apple New Product Development adalah timing mereka yang sangat ketat. Dengan hardware-software dan intergarsi yang mereka lakukan dengan output yang kualitas bagus, Apple melakukan dengan sangat cepat. Produk iPhone diluncurkan dalam 2.5 tahun. Rekor yang cukup lama untuk perusahaan yang selalu cepat ini, namun sangat cepat untuk perusahaan yang tadinya bukan perusahaan telekomunikasi. Bayangkan, di awal project mereka tidak mengerti apa-apa tentang dunia ponsel dan standar telekomunikasi.

Dan bagaimana Apple memutuskan menggunakan layar kaca (bukannya plastik seperti yang digunakan oleh ponsel lain saat itu) adalah sebuah cerita tersendiri. Ketika akhirnya tim desain memutuskan menggunakan kaca sebagai layar, mereka meminta bagian Operasi (Tim Cook) untuk mencari material kaca yang sangat kuat namun tipis (1.3 mm saja) dan bisa digunakan sebagai layar sentuh. Mereka menemukan material itu, yang dibuat oleh sebuah perusahaan terkenal yakni Corning. Material kaca itu oleh Corning disebut sebagai Chemcor dengan nickname Gorilla Glass.

Hanya ada satu masalah; Gorilla Glass sudah tidak diproduksi secara komersial sejak 1971!

Steve Jobs, karena project timeline yang sangat ketat, memberikan waktu hanya 6 bulan kepada CEO Corning, Wendell Weeks untuk membuat lagi produk itu sebanyak yang Apple butuhkan. Wendel Weeks menolak karena mereka belum punya kapasitas dan…karena material itu belum pernah diproduksi sebesar itu sepanjang sejarahnya.

Steve Jobs mengeluarkan senjata saktinya (dikenal oleh internal Apple sebagai “reality distortion field”* hehehe..) dengan mengatakan “Get your mind around it. You can do it”

Waktu 6 bulan meminta perusahaan lain yang sama besarnya untuk memulai produksi sebuah material yang lebih dari 30 tahun tidak diprodukdi adalah sebuah kemampyan yang luar biasa. Namun kita semua tahu ceritanya….sebuah sejarah. Khusus sejarah dan kisah Gorilla Glass  silahkan dibaca lagi. Sangat menarik dan penuh pengetahuan material, bagi yang tertarilk.

iPhone diluncurkan di musim panas 2007 dan menjadi salah satu produk paling sukses dalam millennia ini. Real artists ships.

Banyak perusahaan besar di Indonesia yang tidak beroperasi seperti Apple. Jadwal yang sangat fleksibel, proses yang terputus-putus di internal (antara Marketing dengan Desain/Engineering dengan Manufakturing) apalagi dengan supplier. Ini menjadi tantangan kita.

Sebagai penutup, bagi saya memang tepat sekali jika kita mangatakan jika ingin menghasilkan produkl yang insanely great, kita harus memuat mindset perusahaan bekerja sebagai startup. Apple telah membuktikan. Tentu tidak semua positif, ada downside-nya. Banyak cerita disekitar peluncuran produk Apple yang terkait tingkat stres dan waktu kerja yang sangat jauh dari manusia normal…but again, that’s another story…

Steve Jobs, Jony Ive & pendidikan anak

JohnathanIvesandSteveJobs

Steve Jobs & Jony Ive (sumber gambar: www.knowyourmobile.com)

Setelah membaca biografi Steve Jobs dari pengarang Walter Isaacson, saya memutuskan membaca juga biografi Jony Ive dari pengarang Leander Kahney. Dalam biografinya, Steve Jobs menyebut Jony sebagai orang yang sangat penting dalam menghasilkan insanely great product di Apple.

Dari segala cerita menarik dari dua buku itu, ada beberapa hal menarik yakni kesamaan background kedua orang yang menjadi jenius di balik kesuksesan perusahaan yang bermarkas di Cupertino itu.

Ini hal yang menggelitik saya dari sudut pandang seorang ayah yang mempunyai dua anak balita:

  • Steve Jobs dan Jony Ive sama-sama mengalami kesulitan dalam berbicara, membaca, dan menulis di awal masa sekolah mereka. Mereka diidentifikasi mengidap disleksia dan sangat kesulitan beradaptasi dengan pelajaran sekolah.
  • Dua-duanya mempunyai ayah yang sangat menghargai craftmanship; Ayah angkat Steve Jobs adalah seorang mekanik/tukang kayu, ayah Jony Ive adalah seorang perajin perak. Orang tua mereka sangat mendorong anak-anak mereka untuk menyenangi prakarya dan kreativitas dengan tangan. Orang tua mereka lebih menekankan pada unsur menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) bagi anak-anak mereka.
  • Dua-duanya mempunyai orang tua yang tidak “pushy” dalam mendidik anak dan cenderung memberikan kebebasan anaknya untuk berkembang dalam arah yang anaknya suka.

Dalam situasi dimana saya melihat banyak teman-teman anak saya yang berusia 5 tahun dikirim les membaca karena sang ortu tidak pede pada kenyataan anaknya belum bisa membaca atau susah bicara (cadel) di usia balita, cerita diatas memberi tambahan keyakinan kepada saya untuk tetap membebaskan anak-anak saya dari segala les membaca, menulis, menghitung (calistung) sampai di usia yang memang benar-benar membutuhkan. Sebisa mungkin dalam calistung saya memilih itu sebagai tugas kami sebagai orang tua dan nantinya guru SD anak-anak saya. Biarlah di usia mereka sekarang anak-anak saya mengenal lingkungan dan keluarganya dengan lebih banyak bermain-main.

Cerita dua tokoh hebat itu juga memberi gambaran tentang berbagai kecerdasan yang ada dalam diri seorang anak; bahwa seorang anak cerdas tidak sama dengan harus bisa membaca di usia 4 tahun, menghitung perkalian luar kepala di usia lima, tapi juga bisa berupa kecerdasan artistik, kecerdasan kreatif ataupun kecerdasan motorik.

Orang yang kesulitan bicara atau membaca di usia SD, tidak berarti akan menjadi manusia yang gagal…lihat Steve Jobs dan Jony Ive ;)

Tentu saja tugas saya sebagai orang tua untuk mengerti potensi anak-anak saya dan memastikan kita ada dalam setiap struggle yang akan mereka hadapi.

It’s gonna be a fun journey! :)

 

 

Apple revenue & 80/20 rule: melihat fokus di dalam kerumitan

Beberapa hari yang lalu saya melihat grafik menarik berikut dari situs businessinsider; menunjukkan angka penjualan Apple  sampai Sep’12.

Sangat clear terlihat apa yang menjadi key driver dari pertumbuhan penjualan Apple sekarang ini: iPhone dan iPad. Dalam bahasa manajemen, kedua produk ini adalah the Vital Few, dua yang sangat penting diantara produk-produk/service Apple lain seperti iPod, Macbook Air, Macbook Pro, iTunes, software dan lain-lain.

Inilah contoh nyata betapa universal-nya prinsip pareto atau prinsip 80/20. Selalu ada segelintir faktor yang menjadi key driver utama.

Kenapa menarik buat kita? Karena Prinsip 80/20 adalah senjata utama kita dalam melakukan perubahan dan perbaikan dengan cepat!

Dalam contoh Apple, Tim Cook dan manajemen-nya pasti mati-matian mempertahankan segala hal terkait iPhone dan iPad.

Buat kita, prinsipnya adalah we got to find our own Vital Few. Ini basic yang sering dilupakan banyak orang ditengah terpaan dan banjir permasalahan.

Dalam interaksi saya dengan banyak orang dalam kerangka problem solving atau process improvement, sering sekali saya mendengar statement berikut:

“saya tidak tahu harus mulai dari mana Pak, penyebab kerusakan di sini banyak sekali”

“Ribet Pak, produk kami buanyak buanget…saya aja ngga tahu semuanya. Yang jelas kita merugi, cuma saya tidak tahu mesti fokus ke produk yang mana”

“problem di perusahaan saya sudah kayak benang kusut…terlalu banyak masalah, terlalu banyak departemen, terlalu banyak prioritas!”

Tantangan utama di jaman ini adalah bagaimana kita memilih prioritas dan melaksanakan itu sampai tuntas.

Teknologi seperti laptop, koneksi internet, social media…membantu kita semua dalam melakukan komunikasi lebih cepat, kolaborasi lebih luas, dan akses ke dalam knowledge yang hampir tak terhingga.

TAPI…

Semua itu membawa konsekuensi: kita kebanjiran informasi, kebanjiran persoalan, kebanjiran aktivitas. Inflow problems dan hal yang harus dikerjakan menyamai inflow informasi yang masuk ke dalam inbox kita: di PC, laptop, tablet, smatphone.

Kita tenggelam dalam lautan data, informasi, dan masalah.

Namun ada tool yang sangat efektif: Prinsip 80/20. Ini senjata rahasia (umum) orang-orang yang melakukan problem solving. Para desainer solusi.

Di tahun 1906, Vilvredo Pareto menemulan fakta bahwa 20% dari penduduk Italia menguasai 80% kekayaan negara itu. Yang mengejutkan adalah ia menemukan pola yang sama berulang di negara-negara Eropa lainnya. Ini kemudian dikenal dengan Prinsip Pareto.

Di tahun 1950-1960an, Joseph Juran menggunakan Prinsip Pareto untuk menyelesaikan masalah-masalah produksi di pabrik-pabrik. Ia juga menemukan pola yang sama: ada sekitar 20% dari masalah yang berkontribusi terhadap 80% output yang kita inginkan. Dalam bahasa Juran: there are “Vital Few” over the “Trivial Many”.

Belakangan ini Robert Koch kembali mengkampanyekan Prinsip 80/20 dalam buku-bukunya.

Baik Pareto, Juran dan Koch menyimpulkan hal yang sama: di dalam sebuah populasi (entah itu manusia, produk, masalah, projects, partai) akan ada sekitar 20% atau kurang yang berkontribusi sangat besar terhadap output.

Contoh-contoh lain:

di Indonesia mungkin lebih dari 60% kekayaan nasional hanya dikuasai kurang dari 5% warga negara Indonesia.

Dari 13.000 pulau di Indonesia, yang menjadi tulang punggung dan vital bagi Indonesia mungkin kurang dari 15 pulau.

Di dalam Blackberry kita ada lebih dari 25 software/aplikasi, namun bisa dipastikan yang paling vital bagi kita mungkin kurang dari 5 (dalam contoh saya, vital few adalah: BBM, email, SMS, contact).

Key Takeaway:

Jika anda sedang tenggelam dalam puluhan proyek, puluhan permasalahan, carilah the vital few: key driver yang akan menjadi penentu output anda. Apapun itu.

Jika anda mengerjakan 10 aktivitas/initiative/proyek, ada kecenderungan kita menganggap kesepuluhnya sama pentingnya. Lihat lagi, telaah dengan baik, temukan the Vital Few.

Apple revenue & 80/20 rule: melihat fokus di dalam kerumitan

Beberapa hari yang lalu saya melihat grafik menarik berikut dari situs businessinsider; menunjukkan angka penjualan Apple  sampai Sep’12.

Sangat clear terlihat apa yang menjadi key driver dari pertumbuhan penjualan Apple sekarang ini: iPhone dan iPad. Dalam bahasa manajemen, kedua produk ini adalah the Vital Few, dua yang sangat penting diantara produk-produk/service Apple lain seperti iPod, Macbook Air, Macbook Pro, iTunes, software dan lain-lain.

Inilah contoh nyata betapa universal-nya prinsip pareto atau prinsip 80/20. Selalu ada segelintir faktor yang menjadi key driver utama.

Kenapa menarik buat kita? Karena Prinsip 80/20 adalah senjata utama kita dalam melakukan perubahan dan perbaikan dengan cepat!

Dalam contoh Apple, Tim Cook dan manajemen-nya pasti mati-matian mempertahankan segala hal terkait iPhone dan iPad.

Buat kita, prinsipnya adalah we got to find our own Vital Few. Ini basic yang sering dilupakan banyak orang ditengah terpaan dan banjir permasalahan.

Dalam interaksi saya dengan banyak orang dalam kerangka problem solving atau process improvement, sering sekali saya mendengar statement berikut:

“saya tidak tahu harus mulai dari mana Pak, penyebab kerusakan di sini banyak sekali”

“Ribet Pak, produk kami buanyak buanget…saya aja ngga tahu semuanya. Yang jelas kita merugi, cuma saya tidak tahu mesti fokus ke produk yang mana”

“problem di perusahaan saya sudah kayak benang kusut…terlalu banyak masalah, terlalu banyak departemen, terlalu banyak prioritas!”

Tantangan utama di jaman ini adalah bagaimana kita memilih prioritas dan melaksanakan itu sampai tuntas.

Teknologi seperti laptop, koneksi internet, social media…membantu kita semua dalam melakukan komunikasi lebih cepat, kolaborasi lebih luas, dan akses ke dalam knowledge yang hampir tak terhingga.

TAPI…

Semua itu membawa konsekuensi: kita kebanjiran informasi, kebanjiran persoalan, kebanjiran aktivitas. Inflow problems dan hal yang harus dikerjakan menyamai inflow informasi yang masuk ke dalam inbox kita: di PC, laptop, tablet, smatphone.

Kita tenggelam dalam lautan data, informasi, dan masalah.

Namun ada tool yang sangat efektif: Prinsip 80/20. Ini senjata rahasia (umum) orang-orang yang melakukan problem solving. Para desainer solusi.

Di tahun 1906, Vilvredo Pareto menemulan fakta bahwa 20% dari penduduk Italia menguasai 80% kekayaan negara itu. Yang mengejutkan adalah ia menemukan pola yang sama berulang di negara-negara Eropa lainnya. Ini kemudian dikenal dengan Prinsip Pareto.

Di tahun 1950-1960an, Joseph Juran menggunakan Prinsip Pareto untuk menyelesaikan masalah-masalah produksi di pabrik-pabrik. Ia juga menemukan pola yang sama: ada sekitar 20% dari masalah yang berkontribusi terhadap 80% output yang kita inginkan. Dalam bahasa Juran: there are “Vital Few” over the “Trivial Many”.

Belakangan ini Robert Koch kembali mengkampanyekan Prinsip 80/20 dalam buku-bukunya.

Baik Pareto, Juran dan Koch menyimpulkan hal yang sama: di dalam sebuah populasi (entah itu manusia, produk, masalah, projects, partai) akan ada sekitar 20% atau kurang yang berkontribusi sangat besar terhadap output.

Contoh-contoh lain:

di Indonesia mungkin lebih dari 60% kekayaan nasional hanya dikuasai kurang dari 5% warga negara Indonesia.

Dari 13.000 pulau di Indonesia, yang menjadi tulang punggung dan vital bagi Indonesia mungkin kurang dari 15 pulau.

Di dalam Blackberry kita ada lebih dari 25 software/aplikasi, namun bisa dipastikan yang paling vital bagi kita mungkin kurang dari 5 (dalam contoh saya, vital few adalah: BBM, email, SMS, contact).

Key Takeaway:

Jika anda sedang tenggelam dalam puluhan proyek, puluhan permasalahan, carilah the vital few: key driver yang akan menjadi penentu output anda. Apapun itu.

Jika anda mengerjakan 10 aktivitas/initiative/proyek, ada kecenderungan kita menganggap kesepuluhnya sama pentingnya. Lihat lagi, telaah dengan baik, temukan the Vital Few.

jon dan joni: para pencipta masterpiece

gambaran ideal saya tentang bekerja saat ini sangat terinspirasi dari dua orang berikut: Jon Favreau, Chief Speechwriter dari Presiden Obama dan Jony Ive, Senior VP Industrial Design untuk Apple.

Keduanya masih muda, menghasilkan karya luar biasa serta memiliki karakter dan style yang dalam satu kata bisa disebut: Remarkable

Jon Favreau

Presiden Obama menyebutnya sebagai pembaca pikirannya. Jon atau dipanggil juga sebagai Favs, tahun ini baru akan berumur 31 tahun, adalah orang kepercayaan Obama dalam menulis pidato dan menjabat sebagai Chief Speechwriter termuda dalam sejarah Gedung Putih. Ini sangat menarik karena Sang Presiden sendiri dikenal sebagai penulis dan orator yang luar biasa.

Jon mulai bekerja sebagai penulis pidato untuk Obama sejak presiden pertama African American ini menjadi senator di tahun 2004. Alkisah, Jon yang saat itu baru lulus kuliah di usia 23 tahun masih bekerja untuk John Kerry (kandidat presiden saat itu) menginterupsi Barack Obama yang sedang berlatih untuk memberikan sambutan untuk Kongres Partai Demokrat saat itu. Walaupun tidak terlalu terkesan dengan resume-nya yang belum ada apa-apanya kecuali magang di SenatorKerry, Barack Obama waktu itu mengundang Jon untuk interview dan akhirnya berpendapat mungkin anak muda ini bisa bekerjasama dengan dia dalam masa kampanye.

 

source: The Washington Post

 

Sejak itu, Favs ditarik menjadi speechwriter, yang berarti seluruh pidato kampanye Obama sampai pidato pelantikan dan sampai sekarang adalah hasil sentuhan anak muda ini. Tentunya butuh talenta dan kerja keras luar biasa untuk bisa dipercaya seorang presiden negara adikuasa dan untuk tetap memberikan “value” dalam setiap karya

 

Jony Ive

Menurut istri Steve Jobs, pendiri Apple ini tidak mempunyai loyalty kepada pegawai maupun teman-temannya…kecuali pada Jony Ive.

Desainer yang tahun ini baru memasuki usia 45 tahun ini adalah orang yang menjadi kepala desainer untuk iMac, PowerBook, MacBook Air, iPod, iPhone, dan iPad. Steve Jobs sangat mengagumi pria Inggris ini karena menurut Steve, anak buahnya ini adalah seorang seniman sejati.

 

source: allaboutstevejobs.com

Sebelum bergabung dengan Apple, pria yang sekarang sudah mendapat gelar kehormatan bangsawan dari Ratu Inggris ini adalah co-founder dari Tangerine, sebuah perusahaan konsultan desain. Jony mendapat kehormatan yang sangat tinggi dari Steve Jobs dan menjadikan Desain sebagai inti dari operasi Apple, dimana bagian lain seperti Engineering dan Manufacturing harus bisa mengikuti desain. Ini berbeda dengan perusahaan lain dimana desain pada akhirnya berkompromi karena produk susah dibuat sesuai desain atau tidak ada material yang cocok.

Apa yang bisa dipelajari?

Bekerja di jaman ini berarti mencari kekuatan kita dan fokus dalam mengasah kekuatan itu sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

Menjadi Remarkable.