Tag Archives: Indonesia

Persaingan Kerja di Dunia yang Mengecil

GEGarageheader

 

Saat saya bekerja di GE Money Indonesia, saya pernah ditugaskan ke bagian CRM (Customer Relationship Management) dari sebelumnya di bidang Quality/Lean Six Sigma (yang menjadi core competency saya). Untuk membantu saya menguasai bidang CRM lebih cepat, Manajemen di Indonesia dan Regional waktu itu membantu memberikan support dua orang mentor yakni Salisa yang berbasis di Bangkok, dan Soumyadeep yang berbasis di Seoul.

Competing (and Collaborating) with Global Talent

Saya ingin bercerita sedikit tentang mantan mentor saya, Soumyadeep. Pemuda India ini usianya lebih muda lima tahun dari saya, namun secara pencapaian ia jauh di atas saya. Layaknya pekerja multinasional, ia berbicara dalam Bahasa Inggris yang sangat baik. Selain memiliki technical skill yang bagus, saya mengagumi kemampuan persuasinya yang bagus sekali; ia percaya diri tapi mampu selalu cool sepanas apapun perdebatan yang ada. Di usia yang masih muda ia sudah menjalani assignment di Shanghai, Bangkok dan Seoul dan telah terbiasa beradaptasi dengan tempat dan budaya yang berbeda dalam waktu singkat. Saat itu saya sangat terbantu dengan kehadirannya dan belajar cukup banyak dari dia. Di sisi lain, saya mulai menyadari…whoa, it would be very hard to compete with him! Dan orang seperti dia banyak sekali (misalnya mentor yang satunya lagi, Salisa), dan terus terang aja, masih banyak yang jauh lebih kinclongdibanding dia. Ada orang Singapore, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Australia. Ini pengalaman saya hanya dengan region Asia Pasifik, belum termasuk persaingan benar-benar global.

Gambaran tentang Soumyadeep dan persaingan talen global itu kembali teringat Selasa 18 Agustus 2015, saat saya mengikuti sebuah forum diskusi bertajuk Developing Talent in 21st Century sebagai bagian acara GE Garage di Ciputra Artpreneur. Diskusi yang dibuka singkat Bapak Handry Satriago (CEO GE Indonesia) dan dimoderasi Bapak Rudy Affandy (GE Indonesia HR Director) ini menghadirkan Heather Wang (GE Global Growth HR VP) di sesi pertama dan Bapak Anies Baswedan (Menteri Pendidikan) di sesi kedua (catatan dari sesi Pak Anies Baswedan mungkin akan muncul di catatan berikutnya).

Angka statistik yang saya ingat adalah ini:

Global Talent Competitiveness Index (INSEAD): Indonesia no 86 dari 93 negara yang masuk dalam riset itu.

Hasil ngintip tweet Pak Handry, dapat link laporan lengkapnya (klik diatas) dan ini fakta singkatnya:

Negara kita berada di level yang lebih baik dari: Ghana, Uganda, Pakistan, Bangladesh, Algeria, Madagaskar, Yaman.

Dan…ini ranking negara-negara ASEAN:

Singapore (2); Malaysia (35); Phillippine (54), Thailand (61), Vietnam (75)

Gambaran di atas seharusnya menjadi cermin buat kita untuk bersama-sama memperbaiki diri. Paling tidak kita mulai dari diri sendiri. Persaingan global ini sudah terjadi dan akan makin agresif, bahkan tanpa orang asing secara fisik berada di Indonesia!

The Good News is…

Masih ada harapan, karena korporasi besar siap berinvestasi untuk talent yang stand out.

Ketika sebuah perusahaan melihat potensi (atau kontribusi) seorang karyawan, manajemen bersedia melakukan investasi untuk men-developkaryawan itu. Training, mentoring, coachingassignmentnew challenges. Tidak sedikit teman-teman saya orang Indonesia sekarang ini melanglang buana mendapatkan assignment di berbagai negara sebagai expatriate. Perusahaan-perusahaan besar sering mencari training terbaik untuk mendevelop karyawannya. Perusahaan menyiapkan investasi untuk mendevelop talent-nya, bahkan dengan resiko orang itu pindah ke perusahaan lain.

Buat kita para tenaga kerja di Indonesia, jika kita bisa menunjukkan potensi dan saat diuji benar-benar memberikan kontribusi besar, perusahaan-perusahaan besar bisa menjadi wahana untuk kita mengembangkan diri sekaligus berkarya. Tantangannya adalah apakah kita mau dan mampu untuk selalu menerima tantangan yang diberikan.

Plus & Delta Talenta dari Indonesia

Kepada Heather Wang (GE Global Growth HR Vice President) saya sempat mengajukan pertanyaan, menurut pengalamannya apa kelebihan dan kekurangan orang Indonesia?

Beliau memberikan penjelasan bahwa secara umum kelebihan dan kekurangan orang Indonesia mirip dengan karakter orang Asia pada umumnya.

Plus:

1. Eksekusi: orang Indonesia yang bekerja di perusahaan besar pada umumnya mampu mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka.

2. Expertise: talenta global dari Indonesia biasanya sudah memiliki keahlian yang memadai di bidangnya.

3. Customer centric: umumnya bisa menghargai dan melayani customer dengan baik.

Delta:

1. Articulating strategic thinking: kelemahan orang kita adalah sering tidak tampak untuk bisa menyampaikan pemikiran strategis. Kemungkinan karena ketidakmampuan menyampaikan pokok pikiran secara sistematis secara meyakinkan.

2. Influencing skill: nah ini saya setuju banget (ini juga kelemahan saya). Kemampuan mempengaruhi orang lain dengan cara yang elegan sering menjadi kekurangan orang-orang kita.

3. Executive presence: kemampuan untuk tampak sebagai seorang pemimpin. Ada yang menyebut sebagai kharisma atau aura pemimpin. Orang respek terhadap kita dan menghormati kita sebagai pemimpin (dan ini seharusnya tidak ada hubungannya dengan batu akik atau keris).

Mengetahui plus-delta diatas bisa menjadi modal untuk memperbaiki diri. Jangankan untuk executive presence, untuk expertise dan execution saja saya harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan ini!

Persaingan global bukan hanya untuk kompetisi menjadi karyawan!

Henri, sahabat dari masa kuliah yang sekarang bekerja di sebuah Private Equity di Singapura, memberi tahu tadi malam saya bahwa negara tetangga Singapura makin serius menyiapkan diri menjadi startup hub di Asia, sebagai kelanjutan keberhasilan mereka menjadi hub dalam trade, logistics sampai entertainment. Sebuah alarm buat para startup lokal di Indonesia karena market Indonesia pasti menjadi sasaran yang menggiurkan untuk dieksplorasi.

Dari sisi yang berbeda, sebagai konsultan saya bisa melihat sendiri bagaimana bisnis consulting benar-benar bisa menembus batas-batas negara. Jasa bisa dilakukan oleh konsultan dari mana saja dengan bantuan teknologi. Dan betapa saya menyadari bahwa sebagai seorang konsultan kita dituntut untuk bekerja SANGAT keras agar kompetensi kita bisa mengejar konsultan-konsultan asing. Bagi klien, yang penting solusi dan harga cocok, darimanapun asal konsultan sudah mulai tidak terlalu relevan.

Singkatnya, dunia yang makin kecil ini membawa “medan pertempuran” ke halaman rumah kita sendiri. Sebaliknya, kita dengan gampang melompat ke negara lain jika kita mau. Bekerja di perusahaan besar, menjadi pekerja lepas, mendirikan startup, semuanya bisa menjadi cara untuk mengembangkan diri asal kita siap untuk selalu mau belajar.

Apakah Indonesia tambah maju?

Saya mencoba melihat kemajuan Indonesia dengan aplikasi Gapminder dengan membandingkan Life Expectancy vs. Income per person di tahun 1956, 1997, 2011

Agar ada perbandingan, tentu kita perlu membandingkan dengan negara lain.

Favorit saya adalah Malaysia dan Singapore (negara tetangga), tentunya India perlu juga (populasi besar), US (negara maju), dan Nigeria (saya mencari negara yang kelihatannya tidak terlalu bagus perkembangannya).

Ini hasilnya dibawah. Jadi Indonesia tambah maju ngga? :)

1956

Screen Shot 2013-08-19 at 8.33.32 PM

 

1997

Screen Shot 2013-08-19 at 8.36.39 PM

 

2011

Screen Shot 2013-08-19 at 8.37.54 PM

Indonesia vs. Malaysia (jilid 2): membandingkan proses ijin usaha

Banyak pakar yang mengatakan untuk bisa memajukan Indonesia, kita butuh lebih banyak wirausaha atau entrepreneur. Pak Ciputra bahkan mengatakan, Indonesia membutuhkan sangat banyak wirausaha untuk bisa maju, karena jumlahnya sedikit sekali, kurang dari 5% dari populasi.

Pemerintah setuju dengan hal ini. Universitas dan para praktisi pendidikan non formal juga setuju.

Saya sebagai generasi muda (setengah tua), mencoba untuk terjun menjadi wirausaha, dan mulai mencari informasi unuk membuat badan usaha. Wow, lumayan ribet!

Berhubung saya cukup rajin membaca laporan Bank Dunia dan IFC yang berjudul Doing Business yang membandingkan tingkat competitiveness negara-negara di dunia dari berbagai sisi termasuk tingkat kemudahan (prosedur, waktu, biaya), saya jadi ingin tahu seberapa bagus kita jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Malaysia.

Hasilnya? Memang kita jauh tertinggal dari sisi waktu dan biaya. Bukan hanya orang Indonesia secara rata-rata butuh waktu sebulan lebih lama dari tetangganya di Malaysia untuk memulai usaha, namun juga kita membayar jauh lebih mahal!

Mungkin ada yang nanya, kok dibandingin sama Malaysia? Kenapa ngga Singapura? Wah, kalau sama Singapura kita jauh banget! :(

Berikut tabel yang saya sarikan dari Doing Business 2012-2013.

Jika Singapura dari tingkat kemudahan memulai usaha adalah ranking no 4 di dunia, Malaysia no 54, Indonesia menempati ranking 166. Waduh..! Menurut Doing Business in Indonesia 2013, di Asia Pacific hanya sedikit sekali negara yang prosesnya lebih lama yakni Papua Nugini dan Brunei Darusalam.

Nah, jika ada yang seperti saya ingin tahu apa saja prosedur yang harus diikuti dan berapa lama proses untuk mengurus ijin usaha, berikut dari report yang sama saya ambil contoh untuk proses di DKI Jakarta. Pada proses-proses yang menurut saya paling panjang seperti proses di DepKumHam, Pendaftaran SIUP & TDP, Depnaker, Jamsostek saya memberikan tanda improvement burst (dalam simbol “ledakan” warna merah)

Pertanyaan bagi para pengambil keputusan di instansi-instansi terkait adalah Jika Malaysia bisa 6 hari saja, kenapa untuk mengurus nama badan usaha saja kita perlu 15 hari?

Seperi tulisan saya tentang layanan kesehatan di RS “internasional” Indonesia vs Malaysia, sebenarnya yang dibutuhkan adalah yang terutama menempatkan “customer” sebagai prioritas utama dalam mendesain seluruh proses-nya.

Untuk bisa melakukan proses yang benar-benar mendukung tumbuhnya wirausaha seperti di Singapura dari sisi proses perijinan sebenarnya tidak perlu biaya besar, yang dibutuhkan adalah cara pandang yang sama sekali baru dan komitmen untuk melakukan integrasi proses.

Malah untuk awal-awal tidak perlu investasi sistem online atau apapun, cukup menata ulang seluruh proses-nya. Kenapa saya yakin? Karena di banyak perusahaan-perusahaan global hal inilah yang sedang dilakukan dan saya termasuk bagian didalamnya.

Sekali lagi saya ingin sekali mendapat sharing dari para praktisi di instansi-instansi terkait, apa kendalanya untuk melakukan seperti di Malaysia? Mengurus Ijin Usaha, hanya 3 prosedur, 6 hari!

Indonesia vs. Malaysia: membandingkan layanan RS “internasional”

Berawal dari cerita famili saya tentang betapa bagusnya mutu dan kecepatan pelayanan sebuah Rumah Sakit di Malaka (Malaysia), saya memutuskan untuk mencoba sendiri untuk membandingkan dengan pelayanan RS “internasional” yang ada di Jakarta.

Jadi sekalian periksa-periksa untuk memastikan siap memulai hidup yang sebenarnya (hey, life’s started at 40!) juga sekalian go to gemba…. Genchi Genbutsu!

Berhubung saya tidak ada penyakit tertentu,  yang saya bisa bandingkan tentunya proses Medical Check Up (MCU) saja; kebetulan sebelumnya  dalam 2 tahun terakhir ini saya mencoba paket MCU yang sama di berbagai RS terkenal di Jakarta.

Hasilnya?

Memang RS di Malaka ini lebih bagus dari beberapa RS di Jakarta, terutama dari pengaturan layanan dan lama pasien melakukan check up secara lengkap.

Sebelumnya saya mohon maaf, karena bukan berarti saya tidak nasionalis. Saya hanya melihat dari kacamata seorang pasien dan seorang praktisi process improvement.

Sekarang, saya tidak heran lagi jika “turis kesehatan” dari Indonesia berbondong-bondong ke Malaysia, sebagai alternatif dari RS internasional di Singapura. Kenapa? Untuk urusan harga, yang di Malaka masih sangat bersaing, alias masih lebih murah, namun pelayanannya memang profesional.

Kenapa saya mengatakan RS di Malaka lebih bagus? Karena berdasarkan yang saya alami, mereka sudah mendesain proses sedemikian rupa sehingga seorang pasien benar-benar “mengalir” dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Informasi yang disajikan baik dari websites, respon terhadap email, dan selama kita disana sangat responsif.

Untuk kecepatan proses dan pelayanan MCU ini perbandingannya:

Untuk RS di Jakarta, saya perlu rata-rata 6 jam untuk check up yang lengkap (termasuk treadmill & USG), dan perlu menunggu 5 hari kerja untuk mendapatkan hasil dan berkonsultasi dengan dokter tentang hasilnya.

Untuk RS di Malaka, saya hanya perlu 4 jam untuk check up dengan prosedur sama (termasuk treadmill & USG) , dimana 4 jam sudah mendapatkan hasil dan berkonsultasi dengan dokter. Same day service!!

Tentunya banyak yang akan berkomentar:

“ah di Malaysia pasti alat-alatnya lebih canggih..lebih banyak..”

“staf-stafnya pasti lebih banyak atau dokternya lebih pinter”

atau malah ada yang curiga,

“mungkin seluruh proses disana dilakukan buru-buru ya?”

Ini yang saya alami:

Dari sisi jumlah dokter, staff, dan alat, saya berani jamin hampir sama dengan RS di Jakarta. Malah saya yakin, dari sisi gedung dan peralatan, RS di Jakarta jauh lebih bagus dan moderen.

Jadi apa yang membedakan?

Sebagai praktisi/konsultan di bidang process, tentunya perhatian utama saya adalah betapa RS di Malaka tersebut sangat memastikan flow dari pasien-nya. Kemungkinan mereka sudah menerapkan Lean Healthcare concept.

Diagram dibawah menunjukkan perbandingan flow utk Medical Check Up untuk RS di Jakarta (kotak atas) dan RS di Malaka (kotak bawah).

Jika diperhatikan, secara jumlah langkah dan prosedur yang dilambangkan kotak biru  (disebut Value Added Activities) hampir sama.

Yang berbeda secara signifikan adalah besar dan panjangnya kotak merah, wakni lama pasien menunggu (Waiting Time)

Waktu menunggu ini adalah highlight saya jika ke RS di Jakarta.

Habis registrasi, nunggu….habis ambil darah nunggu lamaa…mau giliran X-Ray dada nunggu lebih lamaaaa…mau bayar? Menunggu!

Oh ya, ini saya belum memasukkan Non Value Added Activity lain lho (misalnya staf yang jalan mondar-mandir, pasien yang mondar-mandir, salah mengisi formulir, dll). .

Tujuan utama dari artikel ini bukanlah agar pasien dari Indonesia berbondong-bondong ke Malaysia apalagi ke Singapura (tapi itu kenyataan yang terjadi sekarang). Yang saya ingin dorong adalah agar Rumah Sakit di Indonesia mulai melihat proses dari sisi pasien, bukan dilihat sisi bisnisnya saja. Perbaikan layanan tidak melulu dari pembangunan gedung bagus, dokter-dokter terkenal,dan peralatan canggih saja.

Perlu mendesain keseluruhan proses agar seamless, cepat, nyaman dan tetap berkualitas tinggi bagi pasien. Ayo lakukan Lean healthcare! Misalnya yang simpel saja. Proses registrasi (bagi pasien pertama) untuk RS di Malaka mereka memastikan agar kita sudah mengisi isian formulir  registrasi lengkap melalui telpon atau email atau datang langsung SEBELUM hari  H kita check up. Ini jauh sangat menyingkat waktu bagi pasien DAN membantu RS membuat planning dengan baik.

Yang menarik adalah, untuk melakukan Lean Healthcare tidak perlu biaya besar. Namun yang dibutuhkan adalah komitmen luar biasa besar untuk:

1. Memulai segala sesuatu dari kacamata pasien

2. Kolaborasi total, tidak lagi melihat departemen RS sebagai kotak-kotak dengan tembok tinggi atau silo thinking (oh ini bagian administrasi, oh itu anestesi). 

3. Lakukan perbaikan secara terus menerus; hasil yang baik perlu kerja keras terus menerus.

Catatan akhir:

Tentu saja poin utama dari seluruh pelayanan ini adalah kesembuhan dan keselamatan pasien. Dari hasil study saya tentang Lean Healthcare, saya menjadi lebih tahu betapa banyaknya kesalahan/error dalam proses di Rumah Sakit, dari  salah dosis obat/salah label obat, sampai RFO (retained foreign object) alias ada “obyek” tertinggal di tubuh pasien pasca operasi. Sekali lagi pengalaman dan pengamatan di sekitar kita menunjukkan RS di Indonesia masih perlu meningkatkan lagi kualitas prosesnya. Yang RS “internasional” aja masih kalah dengan negeri jiran, apalagi yang rumah sakit umum…

Nah ini saya melihat sebagai orang awam, pasien dan praktisi proses. Ada komentar dari para pasien, dan terutama praktisi kesehatan (dokter, perawat, staf RS)? Akan sangat menarik untuk mendengar sharing anda.

Proyek Fiktif di Chevron? Kenapa Menurut Saya itu Hampir Mustahil

Sungguh tidak bisa dipercaya!

Kabar bahwa beberapa karyawan Chevron Indonesia Business Unit ditahan Kejaksaan Agung karena tuduhan bertanggung jawab atas adanya proyek fiktif sungguh mencengangkan saya.

Dengan tetap menghormati proses hukum yang sedang ditangani Kejaksaan Agung, saya ingin sharing opini dari kacamata orang awam hukum, namun cukup mengerti  budaya dan cara kerja Chevron karena saya pernah bekerja disana, walaupun hanya 5 tahun.

Saya menyadari bahwa pendapat saya mungkin akan bias, namun ijinkan saya berusaha seobyektif mungkin menganalisa dari sisi project manajement capability dan juga dari company value & culture. Saya pernah bekerja di dalam, pernah bekerja di perusahaan lain yang tidak kalah besarnya, dan sekarang bekerja sebagai konsultan, saya merasa berkewajiban menyampaikan apa nilai-nilai unggul Chevron dan kenapa hampir mustahil menciptakan proyek fiktif di perusahaan tersebut.

Ini opini saya.

Kenapa hampir mustahil membuat proyek fiktif di Chevron?

Karena mengatakan ada proyek fiktif di perusahaan minyak terbesar Indonesia ini hampir semustahil mengatakan pantai Kuta adanya bukan di Bali, tapi di Malaysia! Why?

Seperti halnya Pantai Kuta yang menjadi icon pulau Bali, Project Management adalah icon Chevron.

Dalam kalimat lain, justru project management adalah puncak keunggulan Chevron dibanding perusahaan-perusahaan lain.

Siapapun yang pernah bekerja di Chevron, baik mantan karyawan (seperti saya) apalagi yang masih bekerja disana, kalau ditanya apa yang paling diingat kalau kita menyebut nama Chevron, saya yakin 80% lebih  akan menyebut CPDEP.

 

CPDEP (Chevron Project Development and Execution Process) adalah kebanggaan sekaligus competitive advantage Chevron. Menurut pendapat pribadi saya, keunggulan project management inilah yang membuat Chevron mampu unggul dan mengakuisisi perusahaan minyak besar lain seperti Texaco (yang sangat jago dalam inovasi teknologi oil/gas) dan Unocal. Chevron sangat piawai mengelola proyek-proyek besar yang artinya mereka unggul dalam mengelola capital mereka; capital stewardship atau cara mengelola modal jumbo adalah syarat maha penting jika ingin sukses di dunia oil/gas.

Jika kita mau jujur, justru disinilah kelemahan perusahaan nasional jika ingin menjadi tuan rumah di bidang migas. Perusahaan nasional masih lemah dalam capital project management.

Nah, apa istimewanya CPDEP apalagi dalam kerangka proyek besar untuk environment ? Bagi yang belum familiar, bolehlah sharing saya ini dianggap Project Management 101 dan sedikit bocoran dari budaya perusahaan yang merupakan produsen minyak mentah terbesar di Indonesia ini.

Pertama, CPDEP menuntut disiplin dan ketelatenan luar biasa. Setiap project capital mendapat pengawasan dari manajemen yang sangat ketat. Apalagi jika project yang dikelola sudah melewati angka USD 5 juta, yang artinya perlu persetujuan BPMigas, biasanya perusahaan minyak manapun ga mau tanggung-tanggung menyiapkan agar tidak kehilangan kredibilitas dimata pemerintah Indonesia.

CPDEP mempunyai 5 phase dimana di tiap phase, akan akan ada tollgate review; project team harus membuat sebuah laporan dan dokumentasi super lengkap dalam paket yang disebut Decision Support Package (DSP). Setiap project manager menghabiskan waktu yang sangat panjang mempersiapkan DSP ini. Di masing-masing tollgate, DSP ini direview oleh DRB (Decision Review Board) yang terdiri dari manager-manager terkait. Jadi selalu diputuskan bersama oleh komite, bukan orang per orang. Jadi jika ada proyek fiktif, tidak mungkin yang bertanggung jawab hanya beberapa orang.

Nah bagi yang punya pengalaman project management, pasti mengalami sendiri bahwa seringkali antara satu phase menuju phase lain akan terjadi recycle (bolak-balik untuk diperbaiki) dan seringkali project di “kill” karena kurang meyakinkan.

Terus terang, saya mungkin tidak akan heran jika Chevron ditegur  BPMigas karena durasi project agak lama karena memang review-nya bolak-balik dengan level yang bisa dua sampai tiga layer. Boro-boro fiktif,  proyek yang lemah pasti tidak mungkin lolos sampai ke phase 3 (dimana project detail plan mulai dibuat).

Tapi adakah project yang kurang berhasil? Jawabannya tentu ada. Ini makanya ada tahap yang namanya lookback, alias setiap project dimonitor dan dipelajari: apakah sukses, apakah kurang berhasil, apa yang bisa dilakukan lebih baik, dan lain sebagainya,

Adakah karyawan yang curang? tentu ada. Tapi ini bersifat oknum atau perorangan. Dan setahu saya Chevron sangat keras dalam memastikan masalah integritas tidak dilanggar.

Dari yang saya tahu, pelanggaran integritas paling banyak di masalah pembelian barang atau urusan kontrak. Hanya di level itu, tidak mungkin sampai level proyeknya yang fiktif.  Di level intitusi, sangat kecil perusahaan multinasional bermain curang. Ini masalah integritas, yang akan saya jelaskan dalam poin kedua.

Kedua, sehubungan dengan integritas, menurut hemat saya, perusahaan Amerika sebesar Chevron akan sangat menghindari melanggar aturan pemerintah Amerika yang bernama FCPA (Foreign Corruption Protection Act).

 

Kepeleset di masalah FCPA, resikonya luar biasa, bisa mengancam induk perusahaan-nya.

Sanksi hukum, sanksi dari media dan Wall Street akan sangat sadis jika sampai terkena pelanggaran itu. Sehingga sepenetahuan saya, perusahaan-perusahaan Amerika seperti Chevron, GE (dimana saya juga pernah bekerja didalamnya) sangat tidak mau kena resiko melanggar FCPA. Setiap karyawan diwajibkan training dan certified setiap tahun (!) tentang hal ini. Membuat proyek fiktif bagi Chevron sama sekali ngga ada untung-untungnya jika melanggar FCPA. dan saya yakin setiap manajemen baik nasional maupun expat sangat-sangat paham hal ini. Why? Karena jika benar mau mendapatkan uang dari cara seperti itu, resikonya adalah bisa menjatuhkan Chevron corporation. Siapapun yang pernah menjadi manager di perusahaan amerika dan masih berpikir menggunakan otak, saya yakin TIDAK AKAN terbersit keinginan selintas-pun untuk melanggar FCPA. Ever. Tidak akan.

Ketiga, Proyek Bioremediasi adalah termasuk proyek HES (health, environment, safety). Ini adalah parameter tertinggi dalam prioritas Chevron. Setiap proyek yang berkaitan dengan kesehatan pegawai, lingkungan dan keselamatan, menduduki peringkat teratas bahkan lebih tinggi dibanding Produksi. Kalau boleh sharing, jika anda mengendarai mobil diatas 40 km/jam di lingkungan Chevron atau kedapatan tidak mengenakan sabuk pengaman, dapat dipastikan promosi anda atau kenaikan gaji anda akan ditunda. Itu yang basic dan kecil. Apalagi proyek besar dan high exposure seperti Bioremediasi, ini pasti mendapatkan perhatian yang sangat tinggi.

Nah, proyek Bioremediasi termasuk proyek yang mencakup ketiga poin diatas: dia menggunakan disiplin CPDEP, proyeknya besar (perlu persetujuan BPMigas) memerlukan integritas dan kehati-hatian tinggi dan termasuk dalam prioritas HES. Walaupun saya tidak mengikuti secara detil, saya 99.99% yakin keseluruhan proses akan mengikuti standar tertinggi yang ada di Chevron. Kalau dianalogikan orang, saya yakin proyek Bioremediasi ini adalah proyek VVIP.

Sangat kecil kemungkinan proyek ini fiktif.

Menurut saya, antara hasil aktual dibanding rencana mungkin ada perbedaan, hal inilah yang harusnya diuji dan diperdebatkan. Jadi itu murni masalah performance, dan bukan masalah fiktif atau proyek sungguhan. Jika hal-hal seperti ini dipidanakan, menurut saya Kejaksaan Agung mengambil asumsi terlalu besar. Bahkan IPA (Indonesian Petroleum Association), BPMigas, Kementerian Lingkungan Hidup pun dalam posisi yang sama dalam membela Chevron.

Demikian opini saya.

Saya menyadari bahwa opini saya hanya berdasarkan pemahaman secara proses dan culture perusahaan; bukan dari kacamata pemahaman hukum ataupun keterlibatan secara detil dalam proyek-nya. Namun demikian, saya selalu percaya, sebuah perusahaan yang bagus akan membangun sistem dan proses yang bagus. Jika dua-duanya bagus, niscaya hasilnya akan bagus.

Opportunity for Lean-Six Sigma Black Belt in Indonesia

I am excited to post an opportunity for any Lean Six Sigma Black Belt and Process Improvement practicioners in Indonesia:

Variance Reduction International (VRI)-Indonesia is looking for experienced Lean Six Sigma Black Belt/Practicioners to join our team in Indonesia, with this requirement:
Position Requirements:

  • Certified Lean Six Sigma or Six Sigma Black Belt
  • Engineering degree
  • Expertise in executing the DMAIC roadmap for Lean Six Sigma projects
  • Expertise in Lean Six Sigma tools and methodology
  • Expertise in scoping a Lean Six Sigma project
  • Expertise in data analysis and interpretation
  • Physically able and willing to travel (Indonesia and SE Asia)
  • Completed two Lean/Six Sigma projects with a financially verified benefit (submit presentations of the projects along with application)
  • References from at least one Master Black Belt (for  interview)
  • Proven facilitative leadership and project management skills
  • Minimum of two years of Lean Six Sigma experience
  • Able to work in a culturally diverse work environment

Desirable But Not Required Skills and Attributes:

  • Expertise in Kaizen facilitation
  • Change management expertise
  • Master degree/MM/MBA

Working schedule: Back to Back (BTB) 10 working days on,10 days off

For interested applicants please send CV to gedemanggala@variancereduction.com