Tag Archives: SDM

SDM dan budaya perusahaan

Pada sebuah┬áJumat, di bulan Mei 2002, Larry Page (yang bersama-sama Sergey Brin merupakan pendiri Google) seperti biasa asik bermain-main di mesin pencari yang ia ciptakan itu. Ia memasukkan berbagai kata untuk melihat hasil yang dikeluarkan. Dan ia tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Search engine-nya itu mengeluarkan hasil pencarian yang bagus, namun ia sangat kecewa dengan iklan yang muncul dari hasil pencarian itu. Misalnya ia memasukkan kata “Kawasaki H1B” mengharapkan yang muncul adalah iklan tentang motor-motor tua, namun yang banyak keluar malah iklan lawyer dan agen yang menawarkan visa H1B buat orang yang ingin ke Amerika Serikat. Ia memasukkan berbagai kata kunci, dan semuanya mengeluarkan iklan yang tidak relevan. Larry sangat marah.

Namun yang menarik diceritakan disini adalah apa yang ia lakukan dan bagaimana respon karyawan Google.

Alih-alih memanggil orang yang bertanggung jawab terhadap iklan di Google atau mengirim email kepada bawahannya tentang performa yang jelek itu, Larry membuat print-out dari pencarian dan iklan yang tidak relevan itu, dan memasangnya di papan pengumuman di tembok tempat karyawan biasa makan. Diatasnya ia menulis judul THESE ADS SUCK. Kalau bahasa Indonesianya mungkin judulnya akan gini…IKLAN BASI. Nah setelah itu, Larry pulang…ia tidak mengirim email, tidak memberi tahu siapapun, dan sama sekali tidak menjadwalkan meeting untuk membahas hal itu.

Senin jam 5.05 pagi…

Salah seorang insinyur Google yang bernama Jeff Dean, mengirim email kepada beberapa koleganya (antara lain George Harik, Ben Gomes, Noam Shazeer, dan Olcan Sercinoglu) melanjutkan pembahasan yang telah mereka lakukan sepanjang akhir pekan. Rupanya para karyawan ini, bukan hanya setuju dengan pengamatan bosnya itu, namun melanjutkan dengan mendiskusikan dan menganalisis akar masalahnya, mencoba mencari solusinya serta mendomenstrasikan prototype solusi yang coding-nya telah mereka buat sepanjang hari Sabtu-Minggu! Hasilnya adalah cikal bakal AdWords dari Google yang kemudian menjadi sumber pemasukan Milaran Dolar bagi perusahaan terkenal ini.

Yang lebih mengejutkan lagi, Jeff dan teman-temannya bukanlah tim yang bertanggung jawab terhadap bagian iklan di Google. Mereka hanya kebetulan berada di kantin perusahaan di hari Jumat sore itu dan melihat print-out yang dipasang sang pencipta Google.

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya sebuah perusahaan bisa membuat karyawannya tergerak menciptakan solusi untuk tempat ia bekerja, untuk hal yang bukan tanggung jawab mereka dan bersedia meluangkan waktu di akhir pekan untuk hal itu?

Jawabannya mungkin adalah mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang tepat dan menciptakan budaya yang mendukung hal seperti diatas terjadi.

“OK bos….tentu aja itu akan terjadi disana. Mereka Googlers!” Mungkin begitu kita berpikir…

Screen Shot 2014-11-29 at 8.20.00 AM

Susahnya mendapatkan orang dan team yang baik bagi UKM dan Startup

Cerita diatas saya ceritakan sehubungan dengan interaksi saya dengan banyak sahabat yang memilki perusahaan-perusahaan kecil belakangan ini. Saya juga kemarin sore, menanyakan pertanyaan “bagi para startup/UKM, apa masalah yang sering yang paling bikin pusing saat ini?” melalui Facebook, Twitter dan satu-satu melalui Whatsapp.

Salah satu masalah yang konsisten mendominasi para pemilik perusahaan adalah susahnya mendapatkan karyawan yang baik. Tentu saja hal yang sama juga menjadi keluhan para manajer di perusahaan besar…namun karena saya pernah merasakan bekerja di perusahaan besar dan sekarang di perusahaan kecil, saat kita di perusahaan besar, kita punya budget yang cukup untuk memilih. Sejelek-jeleknya kandidat yang muncul, biasanya masih lumayan, karena perusahaan besar biasanya sudah mempunyai budget karyawan masih kompetitif.

Di perusahaan kecil, cashflow menjadi masalah utama, sehingga strategi hiring secara pragmatis memang dimulai dengan karyawan yang memang mau dibayar gaji ala perusahaan kecil, kebanyakan baru lulus kuliah. Itupun susahnya menarik mereka minta ampun….udah gitu banyak yang tidak tahan (atau punya ekspektasi terlalu tinggi tentang “bekerja”) sehingga cepat memutuskan berhenti karena hal-hal seperti…dimarahin bos (cuma sekali) atau ternyata jarak dari rumah jauh banget.

Banyak sahabat saya yang mengatakan bahwa salah satu perhatian utama mereka adalah bagaimana mendapatkan orang yang mau bekerja dan bekerja cukup betah sama kita. Bagi perusahaan kecil dan startup, mereka sering harus menolak order atau bisnis baru karena ngga cukup orang. Disaat produk dan jasa sudah mulai dikenal, sepertinya membangun tim dan mengelola karyawan memang jadi prioritas utama…

Apakah budaya yang pas, bisa menjadi jawabannya?

Terus terang saya tidak tahu. Tapi itu hipotesa saya.

Jika saya baca lagi kisah Google diatas yang diceritakan oleh Eric Scmidt (ex CEO Google) dan Jonathan Rosenberg (ex Head Design & Development Google) dalam buku How Google Works, sepertinya di jaman ini, ketika orang mempunyai banyak sekali pilihan dalam berkarir, kompensasi dan gaji bukan satu-satunya hal yang menarik karyawan untuk masuk dan betah bekerja.

Menurut Eric Schmidt, orang bekerja di Google bukan karena gaji besar, atau sepeda warna-warni, atau lapangan voli pantai di kantor, atau kantin gratis (walaupun memang semua itu disediakan Google). Menurut sang mantan CEO, orang masuk Google karena ada budaya yang memang pas untuk orang-orang nerd pencinta coding, data dan komputer, sebuah faktor yang disebut Googleyness.

Bagi saya budaya perusahaan secara sederhana saya simpulkan adalah suasana yang dirasa  menarik buat calon karyawan dan bikin betah karyawan yang sekarang. Sebuah faktor coolness yang tentu saja berbeda-beda bagi setiap orang.

Tadinya saya pikir sebuah budaya hanya bisa diciptakan oleh perusahaan dengan budget besar. Dengan gimmick, kantor bagus, atau tiap tahun outing gila-gilaan.

Namun, di Jakarta saya melihat banyak perusahaan kecil yang saya lihat bisa mulai membangun hal yang menarik itu (dengan segala perjuangan, airmata, dan keribetannya). Sebuah perusahaan kecil milik sahabat saya bisa menarik dua orang karyawan lulusan universitas ternama dengan gaji yang cukupan aja. Temen saya bilang, ia sangat takjub (dan grateful), dua orang yang kalau ngelamar di perusahaan konsulting ternama pasti akan diterima, memilih bekerja di tempat dia. Ada juga perusahaan kreatif yang bisa mengumpulkan berbagai tipe orang yang suka gambar, musik, nulis dalam satu kantor yang suasananya selalu gembira. Ada sesuatu yang menarik buat orang-orang bergabung dengan perusahaan, selain hanya untuk gaji.*

Bagaimanapun, buat startup, budaya perusahaan sangat mencerminkan personality pendirinya. For better or worse, kekuatan itu yang memang mesti digunakan. Orang pinter menarik orang pinter. Orang kreatif menarik orang kreatif. Orang supel menarik orang supel. Cool people attracts cool people.** Dan dari situ mulai diciptakan sebuah kebiasaan dan “budaya” yang membuat orang betah.

Jadi, untuk UKM, pengusaha dan startup, sepertinya jika kita bisa secara sadar membuat personality perusahaan kita lebih visible, mungkin bisa menarik pribadi-pribadi yang tepat?***

Catatan Kaki:

* Tentu saja realita hidup saat ini gaji tetap no 1. Hidup di kota besar (apalagi yang sudah punya anak), gaji teuteup no 1. Namun poin utama dalam artikel ini adalah, mungkin juga kita dengan kemampuan memberikan gaji yang secara market tidak terlalu tinggi, bisa membuat orang bagus betah bekerja karena “budaya” yang membuat dia nyaman.

** Seorang pendiri startup cenderung menarik orang yang mirip dengan dirinya. Ini sangat alamiah. Lama kelamaan perusahaan akan diisi orang dengan kepribadian mirip dan terciptalah sebuah “budaya”. Nah, beberapa pendiri perusahaan secara SADAR mencoba melengkapinya sebagai penyeimbang dengan mencari karyawan atau partner yang bertolak belakang kepribadiannya. Sebagai contoh, banyak pendiri perusahaan atau orang kreatif cenderung mempunyai kepribadian terbuka, ekstrovert, banyak ide, dan tidak suka detil. Pada awalnya ia akan menarik orang-orang yang sama, namun belakangan mulai merasa butuh pelengkap, yakni orang yang detil, terorganisasi, prosedural, dan cenderung introvert.

*** Artikel ini berdasarkan pengamatan kualitatif saja. Sampai sekarang saya belum tahu secara pasti bagaimana memecahkan masalah-masalah perusahaan kecil dalam problematika rutin tentang mencari dan mempertahankan sumber daya manusia-nya. Tapi menurut saya ini topik yang menarik, dan mungkin jadi salah satu ide start up saya? ;)