Tag Archives: the coconut principles

Repost: Buku Prinsip Kelapa Karya Master Black Belt

Ini artikel dari SWA Online. Link asli disini. Repost buat dokumentasi :)

Buku Prinsip Kelapa Karya Master Black Belt 

Posted on November 11, 2013 by Eddy Dwinanto Iskandar

Gede Manggala nampaknya salah satu orang muda yang gelisah dengan kondisi sekitarnya. Praktisi continuous improvement itu kerap melihat berbagai masalah yang selalu terjadi berulang-ulang di sekitarnya, termasuk di tempat kerja maupun di kota tempat tinggalnya, Jakarta. Banjir contohnya, karena terlalu rutin, hingga akhirnya banyak warga Jakarta yang memilih bersahabat dengan banjir, ketimbang mencoba mengatasi penyebabnya.  “Orang pintar banyak tapi mengapa tidak bisa memberikan solusi,” ujarnya.

Pemikiran itu akhirnya menggerakkannya untuk menulis buku The Coconut Principles yang mengusung tema creative problem solving. Melalui bukunya itu, pemegang titel Lean Six Sigma Master Black Belt itu mencoba merombak ulang dan “mengunyah” kembali berbagai konsep terapan process improvement yang sulit dipahami menjadi konsep sederhana yang lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam proses bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Coconut

Buku The Coconut Principles sejatinya terdiri dari tiga prinsip penting untuk menciptakan solusi yaitu creating value, simplicity is the ultimate sophistication dan collaboration is the key for the solutions. Gede memaparkan, pada dasarnya setiap orang bisa menciptakan solusi di tempat kerjanya. Dan agar bisa bekerja dengan baik maka solusi tersebut harus dibuat sederhana dan juga memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Saya menamakan ketiga prinsip itu sebagai The Coconut Principles. Karena inspirasinya bersumber dari karakteristik pohon kelapa yang penuh manfaat,” ujar Gede di sela-sela acara peluncuran bukunya, Jumat 8 November minggu lalu di Toko Buku Kinokuniya, Sogo, Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung dan MBA dari Duquesne University Pittsburgh, AS itu mengakui profesinya sebagai konsultan process improvement lean six sigma turut mewarnai konsep dan tools di bukunya. Memang, agar bisa membumikan ketiga prinsip di atas, Gede memberikan tips-tips manajemen tools yang efektif namun tentunya telah disederhanakan olehnya seperti go to gemba, plan do check action, value stream mapping, diagram Sipoc, why tree, goal chunking dan sebagainya. Pemaparan yang ringkas, dengan bahasa yang sederhana ditambah lagi dengan model buku yang berdesain play full warna-warni membuat pembaca relatif cepat menangkap makna yang terkandung.

Selain itu pria yang pernah berkarir sebagai operation engineer, lean six sigma specialist di Caltex dan lean six sigma master black belt, CRM manager serta marketing VP di General Electric itu,  juga melengkapi bukunya dengan berbagai contoh sederhana yang menginspirasi pembaca untuk segera mengaplikasikan isinya. Simak saja berbagai ‘studi kasus’ mengenai gaya blusukan Jokowi, Indonesia Mengajar Anies Baswedan serta trik Dahlan Iskan mencari penyebab mati listrik di Surabaya.

Acara peluncuran The Coconut Principles sendiri merupakan kolaborasi dari sejumlah pihak seperti Indonesia Productivity and Quality Institute (IPQI) dan Kinokuniya Book Store.  IPQI sejatinya merupakan unit bisnis dari Proxsis Group, sebuah group dari beberapa perusahaan dan unit bisnis yang fokus menyediakan layanan bagi manajemen, khususnya bidang: business process management, safety, security, QMS, enviro and energy, ISO certification, IT security, IT governance, risk and compliance, ERP, human resources management and recruiting, SCM, finance, tax, project Management dan professional development. Saat ini Proxsis Group terdiri dari enam perusahaan dan 15 Business Unit. (EVA)

Blusukan itu kuno?

NGGGAAAA banget!

Justru blusukan sangat efektif di jaman moderen.

Mau jadi problem solver? Rajin blusukan yuk!

gemba

——————————-

Ini kumpulan tweet saya #blusukan

Buat yg bilang blusukan itu kuno ato kampungan, gw mau kasi tau, justru yg bilang itu yg kuno :) perusahaan terkenal justru giat blusukan.
Kemarin ada yg bilang blusukan itu cuma ngabisin waktu. masa pemimpin masuk ke gorong2? Nah, di jmn teknologi skrg, blusukan adlh validasi terhadap laporan yang sering tidak menggambarkan kenyataan.

Dalam lean startup, blusukan disebut “Go out of the building”. Setiap konsep yang (katanya) brilian kudu di validasi dg orang yg jd target:)
Di perusahaan terkenal Toyota, blusukan adalah WAJIB hukumnya. seorang leader kudu “genchi gembutsu” atau go out and see the issues directly. Sewaktu sy jd engineer di sebuah perusahaan jepang, sy wajib nongkrongi proses tiap hari. disuruh gambar yg terjadi aktual. Cerita klasik blusukan adlh kisah chief engineer Toyota yg menghabiskan cuti sebulan road trip menyewa banyak mobil keliling amrik.Dlm kisah blusukan Yuji Yokoya, ia ketemu rental, user, dealer sepanjang road trip. Voice of customer validation, itu intinya!

Jadi, jika organisasi/government sdh besar, adlh wajib utk validasi. krn report gampang dikarang. foto gampang di photoshop:) Jika seorang decision maker terlalu jauh dari realita, gimana bs ambil keputusan yg baik? dari liat power point? meh. Mangkenye, blusukan dong:)

Saat sy kerja di GE, CEO global-nya konon ngabisin hampir 60% waktunya keliling dunia, ketemu customer n country leader. Blusukan biar tau voice of customer.Bg perusahaan konsultan IDEO, blusukan bagi mereka adlh bgm mendesain dg empati.mau desain rumah sakit? jd pasien dulu.Hampir seluruh leader yg efektif rajin blusukan. Liat aja Dirut KAI skrg. ngomelin anak buah bs spesifik krn nongkrong di kereta.

In summary, blusukan BUKAN manajemen kuno. justru sgt efektif tackling problem dlm masyarakat/organisasi kompleks.

Beneran lho!!! :)

Could We Refresh Deming’s System of Profound Knowledge?

Deming’s thought is an interesting story. His thought seems quite easy to overlook, because it is too obvious or too idealist. While I am still in the early phase in understanding Deming’s System of Profound Knowledge, I am amazed by how the simple 4 principles: System Thinking, Understanding Variations, Theory of Knowledge and Psychology could help many great organisations today.

But, this is the challenge.

Whenever I talk about Deming, many people would have a look at me like someone who talks about Pink Floyd to people who are listening to Justin Bieber.

It’s like, “Dude, that was old stuff. Really old.”

But I am convinced myself that Deming’s thinking would be useful today (even more relevant!), and will be good to be introduced to younger generations (i.e Gen X, Gen Y, Millenia, or any other name that we could think people want to generalise any generations).

For younger generations in Indonesia, I want to present a fresh and fun version of Deming’s core principles. I summarised it in a book titled The Coconut Principles.

It started to get attention by many readers, and now is starting the 2nd edition. The great part of it, many people say they like the simplicity of the principles. These are the same people who think Deming’s thinking is already too old :)

For me, it will be interesting to see where it goes from here, and to really see whether we could encourage people to actually DO the principles.

(This article originally posted for Linkedin in this link)

Lebih dari 1000 downloads dalam 24 jam

Saya dan SCOOP bekerjasama menyediakan ebook The Coconut Principles 2nd edition untuk didownload gratis tanggal 2 Mei 2014 kemarin.

Hasilnya adalah lebih dari 1000 download dalam 24 jam.

Jika anda termasuk yang mendownload, saya akan sangat senang jika ada pendapat dan komentar tentang buku itu. Sampaikan komentar anda disini atau mention saya di akun twitter @gedemanggala dengan #simplicity101.

Screen Shot 2014-05-04 at 3.04.47 PM

GRATIS!!! Download buku The Coconut Principles 2nd edition

Siapkan iPad, iPhone, Android phone/tablet, Windows phone ataupun PC/Laptop kamu.

TCP Banner GRATIS

HANYA 1 HARI, ikut merayakan hari PENDIDIKAN NASIONAL.

2 MEi 2014.

DOWNLOAD BUKU THE COCONUT PRINCIPLES 2nd edition GRATIS di LINK INI.

PERHATIAN:

buku hanya free di tanggal 2 MEI 2014, dari pukul 00.00 sampai 23.59.

Selain hari itu harga kembali normal $4.99 atau IDR 49.000

pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar atau kirim email ke coconut.principles@gmail.com

Ingin memecahkan masalah? Ini tips praktis untuk bisa mulai sekarang

Setiap orang punya masalah, dan semua orang ingin memecahkannya.

TAPI,

tidak semua orang berhasil. Malah, banyak yang belum mulai mencoba.

Sekarang ini kita sering mendapatkan motivasi dan inspirasi untuk memecahkan masalah. Semangat menyala. Tapi tidak mulai juga. Ada yang mencoba, tidak berhasil. Terus api padam.

Kenapa?
Karena selain semangat dan motivasi, kita perlu tahu CARANYA.

Jadi ini caranya.

A. Pahami prinsip untuk menjadi problem solver.

Ada banyak yang mengajarkan prinsip menjadi problem solver, tapi saya ingin menyampaikan yang paling sederhana, meminjam ilmu dari pohon kelapa.

(ilustrasi karya Endang/Impro)

(ilustrasi karya Endang/Impro)

1. Selalu ciptakan manfaat.

Karena masalah banyak disekitar kita, usahakan kita bisa hidup kayak pohon kelapa. Bisa ngasi manfaat dimana saja kita berada. Masalah itu ibaratnya kayak TTS yang nunggu diisi. Susah, tapi menantang..ya kan?

2. Sederhanakan

Banyak hal timbul karena dibuat ribet. Kenapa juga kita antri check-in pesawat, setelah itu harus antri bayar airport tax. Jadi masalah banyak yang bisa dipecahkan hanya dengan mencoba menyederhanakan apa yang kita lihat ribet. Kita kudu kayak pohon kelapa yang simpel dan lurus. Makanya tinggi. Jadi kita bisa mulai dengan menyederhanakan pikiran kita sendiri lho…mau mulai aja kita suka ribet. Mending kita mulai sesuatu yang sederhana tapi bisa dilakukan hari ini, daripada mikirin yang ideal, tapi ngga pernah mulai.

3. Kolaborasi

Pohon kelapa itu akur dan tumbuh dalam rumpun. Demikian juga para pemecah masalah, harus sadar bahwa solusi lebih gampang diciptakan dengan kerjasama.

Jika ingin membaca lebih banyak tentang prinsip ala kelapa ini, bisa terjun ke link ini.

B. Pelajari jurusnya

Jurus untuk memecahkan memecahkan masalah ada banyak, seperti layaknya bela diri, ada karate, silat, kungfu, dan banyak lagi.

Dalam memecahkan masalah ada yang namanya Six Sigma dengan jurus DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control), Quality Management dengan jurus PDCA (Plan-Do-Check-Action), ada yang disebut 8 langkah Toyota Business Practices, dan banyak lagi.

Karena ingin simple, saya bikin jurus sendiri yakni IDDE. Inginnya jurus ini bisa dipelajari dan diterapkan hanya dengan baca blog ini dan ngga usah pakai training!

Apa itu jurus IDDE?

1. Identify

Jurus pertama, identifikasi masalahnya dengan baik. Apa sih yang menjadi masalah kita sebenarnya? Jika masalah banyak sekali, yang mana yang paling penting untuk dipecahkan? Yang mana yang paling gampang untuk dimulai hari ini? Yang penting, apapun masalah yang ada, kita harus yakin bahwa kita bisa mencari solusinya.

Contohnya, masalah yang bikin saya pening minggu ini adalah saya sering menghabiskan waktu mencari-cari dokumen dan file di komputer. Kadang-kadang bisa habis waktu 2 jam untuk mencari 1 file. Setelah saya identifikasi lebih lanjut, ternyata ini gara-gara cara saya mengatur file tidak teratur dengan baik. Kadang-kadang saya simpan di folder yang saya beri nama project, nama perusahaan, dan macam-macam cara lain yang kadang juga bercampur dengan koleksi lagu :)

Screen Shot 2014-01-28 at 7.43.18 PM

2. Design

Jurus berikutnya jika kita sudah berhasil mengidentifikasi masalah adalah mulai merancang solusinya.

Dalam contoh saya, saya mendesain cara penyimpanan file yang lebih terstruktur. Dengan memanfaatkan pertemanan, saya bertanya pada teman-teman yang saya lihat jauh lebih sibuk tapi selalu efektif, tentang bagaimana mereka bisa mengelola file mereka. Dengan kolaborasi kita tidak perlu reinvent the wheel!  Dari beberapa saran yang bagus, saya mencari yang simpel. Folder-folder saya buat agar berurut dan mempunyai standar penamaan. Jadi ada folder khusus pekerjaan dengan nama project, klien, dan juga personal. Semua diatur agar gampang disimpan dan diakses kembali. Ini desain yang baru:

Screen Shot 2014-01-28 at 7.44.50 PM

3. Do

Jurus ketiga adalah ikut moto dari Nike: Just do it!
Lakukan segera. Mungkin solusi kita mujarab, mungkin juga ngga…tapi hanya dengan melakukan kita bisa tahu hasilnya. Jika gagal, coba dilihat jurus Design, mungkin perlu disempurnakan lagi. Jika sudah berhasil, mari kita lihat hasilnya.

4. Evaluate

Nah, jurus terakhir adalah langkah evaluasi. Kita perlu lihat, apakah dengan cara yang baru, masalahnya sudah hilang. Apa buktinya? Apakah kita melihat perubahan? Dan yang paling penting, bagaimana kita memastikan agar improvement ini bisa terus terjaga? Bagaimana caranya agara masalah yang sama tidak terjadi lagi.

Dalam contoh saya, dengan cara penyimpanan folder yang baru ini, saya selalu menyimpan dan mencari file apapun dengan gampang. Tidak ada yang lebih dari 5 menit sekarang ini. Tentu saja agar perbaikan ini tidak hilang di kemudian hari, saya perlu buat standar dan dokumentasi. Caranya? Ya menulis blog ini :P

Nah, itu tips menjadi problem solver. Yang penting diingat adalah prinsipnya,

Pertama, jika melihat masalah, apalagi terkait pekerjaan, segera kuatkan niat untuk memulai cari solusinya. Yang kedua, cari cara yang sederhana untuk memulai dan menyelesaikan. Dan ketiga, manfaatkan teman dan network dalam mendapatkan solusi. Dengan kolaborasi banyak hal bisa diselesaikan.

Jurus-jurus IDDE ini cukup sederhana untuk digunakan untuk memecahkan masalah di sekitar kita.

Mau mulai hari ini?

Klik untuk tweet post ini

Tweet: Ingin memecahkan masalah? Ini tips praktis untuk bisa mulai sekarang! http://ctt.ec/8MEb0+ #simplicity101